Penulis: persmamumtaz

Kegiatan diskusi merupakan bagian dari jati diri mahasiswa yang haus akan Ilmu pengetahuan dan pemahaman. Lingkar Diskusi Rutinan (LDR) adalah salah satu bentuk kesadaran mahasiswa khususnya mahasiswa IAIN Palangka Raya akan pentingnya diskusi. Dalam satu kesempatan, LDR menggelar diskusi yang membahas tentang Islamic Branding yang mana menjadi nara sumber adalah dosen IAIN Palangka Raya Jefry Tarantang. Diskusi dihadiri berbagai mahasiswa dari fakultas dan jurusan yang berbeda. Turut hadir pula ketua Senat Mahasiswa IAIN Palangka Raya dan ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Palangka Raya. Kamis,(23/01).

Deby Fizar, salah satu penggagas LDR menjelaskan bahwa tujuan diadakan diskusi ini ialah untuk menanamkan kebiasaan yang sejatinya adalah karakter mahasiswa. “Mahasiswa seharusnya haus akan forum-forum seperti ini, kita seharusnya tau bahwa ilmu pengetahuan dalam ruang-ruang kelas hanyalah formalitas dan tidak ada keseriusan dalam belajar jika hanya formalitas. Dalam LDR ini kita mau menunjukan bahwa inilah mahasiswa, inilah yang seharusnya menjadi identitas kita bahwa kita perlu memperluas wawasan dan kita perlu ruang lingkup yang bukan hanya sekedar dalam kelas sehingga ini akan menjadi jawaban bagi mahasiswa IAIN Palangka Raya, dan tentu diskusi-diskusi selanjutnya akan berbeda pembahasan dan narasumber” ungkap Deby di tempat.

Dody Faizal, Ketua Senat Mahasiswa IAIN Palangka Raya turut berhadir dalam diskusi ini menanggapi bahwa diskusi ini adalah salah satu terobosan selain menambah ilmu pengetahuan juga sebagai ajang silaturahmi mahasiswa. “saya pribadi senang dengan diskusi, karena dengan diskusi adalah salah satu cara menambah pengatahuan diluar membaca. Ditambah lagi disini dihadiri mahasiswa IAIN dengan latar belakang program studi yang berbeda tentu ini menjadi silaturahmi antar mahasiswa. Saya berharap selanjutnya diskusi ini lebih menarik dengan tema yang kritis dan diikuti oleh banyak mahasiswa IAIN yang memang senang berdiskusi untuk menambah wawasan”, uangkap Dody.

Diskusi menghasilkan tentang kesadaran problem pemahaman masyarakat baik tingkat dunia maupun Indonesia tentang Islamic Branding. Dimana pemahaman masyarakat hanya pada tingkat labeling suatu produk atau tokoh yang ternyata itu tidak semuanya berdampak langsung pada Islam. Ada saat dimana Islam digunakan sebagai sampul guna menarik minat konsumen Muslim. Ini menjadi tugas akademisi yaitu mahasiswa untuk menerangkan kembali pemahaman tentang Islamic Branding itu sendiri dimana Islamic Branding bisa dianggap adalah senjata abstrak dibalik suatu produk pada zaman modern yang mampu menjadi positif sekaligus negatif.

Balya Nasim, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam berpendapat bahwa LDR sebagai satu langkah kecil untuk lompatan besar dikemudian hari agar kita lebih membumikan dan mengedepankan diskusi, selain itu berkaca pada iklim kampus yang semakin sepi akan diskusi diharapkan agar kegiatan ini terus berlangsung. “ tema yang diangkat menarik, terlebih ini tentu saja berkenaan langsung dengan ekonomi Islam sekarang dan itu penting bagi mahasiswa FEBI khususnya. Semoga kedepannya makin banyak mahasiswa yang terlibat dalam diskusi ini terutama para penggiat-penggiat lembaga kampus agar bisa ikut serta disini baik dari IAIN maupun dari kampus lain yang ada di sekitar Palangka Raya”, ungkap Balya pada Al-Mumtaz melalui chat.

Rep.MN

Read Full Article

Baru-baru ini dalam lingkungan Kampus IAIN Palangka Raya dikeluarkan sebuah himbauan agar para mahasiswa merapikan rambutnya alias tidak gondrong. Dalam surat Himbauan No. B-119/In.22?HM.01/01/2020 yang ditanda tangani oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama  Dr. Sadiani, M.H. Himbauan tersebut tidak ada kejelasannya, apakah kriteria gondrong itu seperti yang bagaimana. Penulis tidak  paham dengan himbauan jangan gondrong, apakah ini bentuk dari rahim diktator rektorat dan akan melahirkan diskriminasi bagi mahasiswa gondrong. Belum diketahui kejelasan tujuan himbauan ini dikeluarkan.

Pers Mahasiswa Al-Mumtaz menilai himbauan tersebut dinilai berdampak mengekang pada kebebasan Mahasiswa. Hal ini tentu dikhawatirkan akan memaksa dan persuasif. Apalagi jika memasuki tahap memaksa tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan mahasiswa dalam perkuliahan dan beresiko tidak diperbolehkannya mahasiswa mengikuti perkuliahan jika berambut gondrong. Sebenarnya jika kita melirik kepada beberapa keadaan kampus IAIN Palangka Raya, masih banyak yang harus dibenahi dari pada hanya sekedar mengurus Gondrongnya mahasiswa.

Aulia Fitri sebagai Wakil ketua Dema IAIN terpilih berpendapat bahwa himbauan ini tidak selalu buruk jika kita melihat dari berbagai sudut pandang, “himbauan soal jangan gondrong ini memang bagus dimana jika kita menyadari posisi kita sebagai warga kampus Islami oleh karena itu sudah sepatutnya kita mencerminkan nilai keislaman melalui kerapian penampilan kita, namun tidak menutup kemungkinan akan ketidak nyamanan teman-teman mahasiswa. Saya menyadari adanya bentuk kekecewaan terhadap himbauan ini tapi jika itu dalam kategori tidak berlebihan menurut saya pribadi itu tidak masalah. Toh juga untuk sekarang itu hanya bersifat himbauan”, ungkap Aulia kepada Pers Almumtaz.

Gondrong ataupun tidak kenyataannya tidak mempengaruhi nilai akademik, gondrong itu bukan menunjukan segan atau senioritas penulis menolak keras bahwa gondrong selalu dikaitkan dengan nilai negatif. Mahasiswa punya hak masing-masing, seperti hak personal dan kebebasan, mustahil kemerdekaan kami direbut dengan dalih rapi, lalu apa bedanya himbauan jangan gondrong dengan pembunuhan karakter mahasiswa, Selanjutnya apa? Periksa kuku? Patut ditunggu.

Read Full Article

Oleh: Santia Widya, Mahasiswa Ilmu Qu’an Tafsir IAIN Palangka Raya.

Sebuah tulisan yang telah dipublikasikan ke akun Facebook pribadinya pada tanggal 1 Oktober 2019.

Tulisan ini terinspirasi dari pernyataan Sherly Annavita (Influencer Milenial) pada saat acara E Talk Show tvOne bahwa, &Anak muda itu ada dua alasan kita semua bergerak menjadi bagian dari perubahan, satu adalah mereka yg sakit hatinya dan yg kedua adalah mereka yg terbuka pikirannya. Maka Sherly pikir sudah saatnya generasi muda mengambil bagian mulai aktif, peka tapi bukan karena sakit hatinya tapi karena terbuka pikirannya.

Saya sebelum menjadi Mahasiswa adalah sosok yg kontra terhadap aksi demonstrasi. Utk apa unjuk rasa? utk apa teriak-teriak di bahu jalan? dan dgn deretan pertanyaan sinis lainnya.

Hingga ketika saya berstatus ‘Mahasiswa’ ada banyak hal yg memperluas mindset saya tntg aksi demonstrasi.

Bung Hatta menyatakan dari dulu bahwa,&Mahasiswa itu akal dan hati masyarakat.& Pernyataan ini saya kutip dari seorang Aktivis HAM Pak Haris Azhar pada acara ILC tvOne. Beliau salah satu tokoh dewasa yg merangkul dan mengarahkan resahnya sikap Mahasiswa terhadap keputusan Pemerintah dengan pembelaan,&Mahasiswa tidak main kejar-kejaran, Mahasiswa itu mau menyampaikan aspirasi.& Beliau begitu mengapresiasi hal tersebut dan juga menyampaikan, “Jangan perkecil aksi Mahasiswa. Kita harusnya berterimakasih. Alarm Demokrasi hidup.”


Adapun 7 tuntutan dari aksi Mahasiswa saya kutip dari detiknews (26/09/2019) meliputi:

1. RKUHP

2. Revisi UU KPK

3. Isu Lingkungan

4. RUU Ketenagakerjaan

5. RUU Pertahanan

6. RUU PKS

7. Kriminalisasi Aktivis

Aksi yang dilakukan Mahasiswa menuai pro dan kontra di kalangan intelek, elit politik bahkan masyarakat pada umumnya. Hingga muncul isu-isu aksi ini ditunggangi oleh kepentingan oknum tertentu. Presma UI Manik Margamahendra menegaskan bahwa,&Mahasiswa sedang turun ke jalan, ribuan bahkan sampai puluhan ribu karena kita bersatu dgn masyarakat hari ini. Namun ada permasalahan yg kemudian disinggung terkait dgn asumsi liar yg beredar bahwa aksi kami ini ditunggangi, katanya. Iya, yg paling penting kami katakan bahwa iya benar aksi kami ditunggangi tapi ditunggangi oleh kepentingan rakyat. Mengapa? karena jelas bahwasanya disini kami tdk berbicara sama sekali tntg guling-menggulingkan atau menurunkan yg saya rasa itu adalah urusan elit politik, ya silakan urus saja tdk perlu bawa-bawa rakyat dlm pusaran elit politik.&

Kembali ke sudut netral lainnya meninjau pernyataan Pakar Hukum Tata Negara Pak Irmanputra Siddin yg mengkritisi pemangku kuasa: jgn sampai kekuasaan tdk baca yg ia teken, beliau juga menganalogikan sistem pemerintahan dgn percintaan bahkan perselingkuhan, &Kenyataannya demokrasi tdk seindah yg kita bangun. Fenomena yg kemudian muncul adalah di belahan dunia saya nggak tahu terjadi di Indonesia atau tdk. Parlemen ini yg diharapkan hadir guna mengontrol kekuasaan berselingkuh dia dgn kekuasaan itu, lalu kemudian rakyat mengatakan ‘dimana? Siapa yg menyuarakan suara kami?’ Parlemennya pun merapat pada kekuasaan. Saya tdk tahu ini mirip atau tdk ketika di negara kita satu-satunya sumber utama Parlemen adalah Partai Politik, yg kita sdh berikan kursi kepada Partai Politik duduk di Parlemen sana. Tapi ternyata Partai Politik pun masih menginginkan kursi di Kabinet Pemerintahan. Saya nggak tahu apakah koalisi ini mirip-mirip dgn selingkuh yg tadi saya ktkn seperti itu. Dlm kondisi seperti ini maka kemudian kita putus asa kita sdh kasih kekebalan, wah ini skrg kita kritik pemerintah bahaya mulailah kekuasaan baru lagi ada kekuasaan informal muncul, kekuasaan Pers yg org ktkn ini kekuasaan keempat. Inilah yg kemudian menjembatani kita mengontrol kekuasaan itu, inilah kemudian yg kita perhadap-hadapkan dia dgn kekuasaan itu membantu umat manusia guna mengontrol kekuasaan yg tadinya kita sdh mulai kehilangan asa kepada Parlemen, muncullah kekuasaan Pers disini. Dlm perjalanannya lagi ternyata tak seindah yg kita bayangkan juga. Pers pun sdh mulai kita curigai jangan-jangan ini jangan-jangan ikutan berselingkuh, juga ada cinta segitiga antara Parlemen, Presiden dan Pers. Makanya saya ingatkan yg namanya kekuasaan itu dia tidak akan pernah setia sama teman selingkuhnya dia hanya setia kemungkinan kapitalisme dibelakangnya. Kekuasaan itu yg sulit kita pisahkan adalah dia bisa berpisah Parlemen bisa berpisah sama Pers tapi sulit kita pisahkan dgn cinta sejatinya yg namanya kapitalisme. Itu yg berbahaya.” Beliau menegaskan bahwa, “yg paling penting adalah kita juga tidak mau utk tidak menghargai kerja Parlemen dan kerja Presiden, saya kira RUU KHUP ini adalah jalan panjang sejarah kita membangun narasi nasionalisme kita akan hukum yg berdaulat di negara kita. Sehingga memang saya juga bisa pahami tdk mungkin ada UU yg sempurna yg kita hasilkan, ada UU yg kemudian diputuskan tanpa lepas dari perdebatan.”

Ada banyak cerita ketika Mahasiswa menunjukkan aksi demonstrasinya yg pada akhirnya diperdebatkan oleh netizen, mulai dari aksi Demonstrasi yg memunculkan cinta lokasi antar Mahasiswa dgn cerita-cerita dramatis yg saya rasa itu hanyalah bonus saja, yg membuat saya miris adalah beredarnya aksi kekerasan dari oknum aparat hukum yg hingga menelan korban jiwa yg tdk sedikit, seolah sejarah hitam tntg perjuangan sampai titik darah penghabisan kembali terulang saat aksi demonstrasi yg juga dilakukan Mahasiswa kala itu ketika Orde Baru tahun 1998. Saya tdk mengambinghitamkan pihak manapun. Ketika suatu negara kembali pada azas demokrasinya yg katanya menjaga dan melindungi hak bebas dalam berpendapat saya rasa hal ini tidak akan sampai menelan korban jiwa, saya mengutip dari Kompasiana (30/01/2018) dalam UUD 45 Pasal 28E ayat 3 yaitu, &Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.& Juga dlm UU No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 3 ayat 2 berbunyi, &Setiap orang berhak untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalu media cetak maupun media elektronik dengan memperhatikan nilai nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.”

Ada apa dengan Indonesia? Ada apa dgn Ibu Pertiwi? Apakah sedang menangis, meratapi atau bahkan terluka? Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Saya selaku Mahasiswa yg juga bagian dari rakyat Indonesia mengkritisi tntg aksi demonstrasi yg dilakukan Mahasiwa bahwa hal tersebut adalah wujud perjuangan utk upaya keberlangsungan Indonesia agar lulus dari ujian reformasi dgn komunikasi yg baik antar rakyat dan pemerintah. Ada analogi dari Sherly Annavita bahwa Pemerintah seperti Kura-kura, ”Utk membuat kura-kura jalan itu nggak bisa hanya dgn ditepuk-tepuk dari luar aja dia harus ditusuk kedalam bahkan lebih bagus dia dari dlm. Artinya harus dari dlm utk membuat kakinya keluar, kepalanya keluar dan menggerakkan kura-kura itu. Artinya utk memperbaiki sistem pemerintahan ya dari dlm. Tapi lingkungan sistem dari luar ini juga mendukung bagaimana jalannya pemerintahan. Toh salah satu indikator adanya negara adalah masyarakatnya dan negara kita: negara demokrasi yg dari oleh dan utk rakyat.” Kemudian ada sosok Hillary Brigitta Lasut seorang generasi milenial yg menjadi Anggota DPR RI Terpilih berpendapat, “Sebagai seorang anak muda yg harus kita kembangkan dan lihat adalah demokrasi itu jelas, perlu dan sesuai dgn kehendak rakyat. Tapi ada suatu hal yg harus diseimbangkan dlm idealisme anak muda yaitu pertama yg seperti Pak Habibie blg,’kecerdasan itu baik tapi akan berbahaya tanpa cinta.’ Jadi, kita harus menanamkan juga nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, mengetahui jelas bahwa Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu) bkn hanya bicara soal SARA tapi juga soal berbeda pendapat, kita bisa berbeda pendapat, kita bisa berbeda cara pemikiran, tapi kita harus tetap satu dlm perjuangan.”

Saya melihat ada dua sisi generasi milenial yg berbeda pandangan tntg aksi demonstrasi, Sherly merasa hal tersebut perlu diapresiasi karena Mahasiwa bergerak dengan kedinamisannya sdgkan Hillary lebih meninjau pada aksi utk berada pada sistem tanpa harus berkoar-koar merusak aset negara. Sygnya tulisan saya tidak memiliki bnyk argumen mengapa terjadi tindak kekerasan antar pelaku aksi dan oknum aparat hukum yg menimbulkan beberapa korban jiwa. Tulisan ini dgn segala keterbatasannya mengajak pembaca utk membuka mindset lebih luas bahwa aksi demonstrasi adalah upaya Mahasiswa selaku harapan bangsa yg menjadi estafet pemerintahan utk memperbaiki sistem yg dirasa perlu dikomunikasikan pada publik dgn 7 tuntutan tadi utk memperjuangkan suara rakyat. Jika Sherly memilih memperbaiki sistem dgn berada diluar sistem (sebagai aktivis yg peduli pada dunia pendidikan) berbeda dgn Hillary memilih memperbaiki sistem dgn berada didalam sistem (sebagai bagian dari pemerintahan yakni DPR RI). Setiap dari kita berhak memilih dan terlibat aksi nyata dlm memperbaiki sistem pemerintahan di Indonesia. Sherly menegaskan, “Apa yg diketuk skrg berimbas pada keberlangsungan Indonesia kedepannya dgn peralihan posisi dari pemuda saat ini yg peka utk memperbaiki sistem.” Kemudian Hillary menegaskan, “Ketika kita turun ke masyarakat sbg calon politisi hal pertama yg dilihat masyarakat adalah harapan: perubahan dan org yg akan memperjuangkan suaranya dan saya tdk ingin menjadi pemberi harapan palsu.”

Hari ini tepat 1 Oktober diperingati sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”.

Harapan saya selaku bangsa Indonesia,

“Lekas pulih, membaik dan panjang umur perjuangan.”

#HidupMahasiswa

#HidupMasyarakatIndonesia

Read Full Article

Senat Mahasiswa Institut adakan forum diskusi Keluarga Besar Mahasiswa IAIN Palangka Raya untuk membahas mengenai GBHO Multi Tafsir di sekretariat PIK-R Barigas. Minggu,14/09.

KBM IAIN Palangka Raya


Forum tersebut dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, pengurus SEMA-I 2019 serta ketua ORMAWA masing-masing fakultas dan ketua UKK/UKM sekaligus klarifikasi dari Aliansi Mahasiswa terkait pemboikotan sekretariat SEMA-I pada Minggu yang lalu.

Bayu Prima.S.B.W

“Seperti pada tulisan saya di website DEMA Fakultas syariah yang telah lama diterbitkan. Pada intinya tulisan tersebut berisikan komentar saya mengenai kekosongan hukum dan ketidakpastian hukum dalam GBHO, Pointnya pada pasal 54 Ayat 1 dan 55 ayat E yang seharusnya ada penjelasan rinci dan tidak menghadirkan banyak perspektif” Tegas Bayu Prima. Terbitnya tulisan tersebut mendapat respon dari pihak terkait yang berjanji akan menghadirkan forum dalam waktu dekat guna membahas bersama-sama mengenai pasal yang ada di GBHO tersebut. Namun perwakilan Aliansi Mahasiswa (Bayu Prima) merasa belum ada pergerakan dari SEMA-I dan kemudian membuat surat mohon mengadakan Forum melalui DEMA-I, hasilnya belum terlihat.

Ketua SEMA-I,
“Sebenernya sudah lama saya menetapkan tanggal 6 September untuk mengadakan Forum,namun terkendala teman-teman pengurus SEMA-I yang masih KKN dan memiliki kesibukan sehingga baru hari ini dapat dilaksanakan. Mengenai GBHO Multi Tafsir, saya menyatakan bahwa ketentuan pasal 54 dan 55 yang tertulis di dalam GBHO diusung langsung oleh lembaga(kampus). Sehingga apabila ada perubahan maka harus melalui sidang SEMA-I dan persetujuan di forum.” Ucap Ilham Mu’amar selaku ketua SEMA-I.

WR bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama

“Sebenarnya MoU dan GBHO jelas memiliki hirarki norma hukum yang berbeda, GBHO norma hukum yang tertinggi untuk organisasi mahasiswa dan MoU adalah bentuk kesepahaman antara suatu lembaga atau instansi pemerintah dengan kampus. Menanggapi hal demikian, dan menurut kesepakatan bersama bahwa atribut organisasi ektra yang memiliki MoU dengan kampus diperbolehkan menggunakan atributnya pada saat yang diperlukan. Dalam artian tidak di lingkungan kampus.” Ungkap Bapak Sadiani selaku Wakil Rektor bidang kemahasiswaan dan Kerjasama

Musyawarah besar perlu mendapat perhatian serius dari Keluarga Besar Mahasiswa IAIN Palangka Raya untuk menghindari adanya ketidak sepemahaman mengenai hukum yang tertulis dan atas kesepakatan bersama secara menyeluruh untuk mencapai kesejahteraan serta memaksimalkan fungsi pada GBHO itu sendiri.

Rep:Aw*AbRm

Read Full Article

Pembukaan Olimpiade Sejarah Isen Mulang 2019 tingkat SMA/SMK/MA sederajat se-kota Palangka Raya, bertempat di Aula utama Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya.
Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 9 s/d 10 september 2019 ini di adakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Adab IAIN Palangka Raya yang mengangkat tema “Cerdas, Kritis dan Berkarakter melalui Olimpiade Sejarah Isen Mulang” kemudian Olimpiade ini di ikuti oleh 128 orang siswa dari 9 sekolah se-kota Palangka Raya.


Sambutan dekan FUAD sekaligus membuka Kegiatan OSIM “Diharapkan kedepannya HMJ Adab dapat mengadakan lomba yang lebih meriah lagi, salah satunya seperti Lomba Film Dokumenter mengenai Sejarah” ucap Desi Erawati.
Sambutan wakil rektor bidang kemahasiswaan dan Kerjasama “Sebagaimana semangat Isen Mulang, pantang mundur maju tak gentar, dalam mencapai cita-cita penuh proses, berlika- liku, berjuang dan usaha tidak aakn menghianati hasil” tutup Bpk Sadiani.


“Ini Olimpiade Isen Mulang yang pertama dari HMJ Adab, dan diluar perkiraan ternyata antusias adik-adik SMA sederajat cukup banyak. Harapannya, bertambahnya wawasan itu tidak berdampak hanya pada peserta yang mendapat juara tetapi juga seluruh peserta yang berpastisipasi dan sesuai dengan tema OSIM 2019. Kemudian juga menjadi gebrakan baru untuk mempromosikan prodi Sejarah Peradaban Islam agar dapat menarik minat siswa untuk bergabung.” Tutur Farijal Adi Nugroho selaku SC.

Rep: Mr.n

Editor: WA

Read Full Article

Ketua ORMAWA English Community (ECOM) Abu Singwan Al madani, melakukan pertemuan khusus dengan Ketua DEMA IAIN Palangka Raya di Sekretariat DEMA gedung D1. Keduanya membahas perpindahan naungan ECOM yang saat ini masih di bawah naungan fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Pertemuan tersebut dengan tujuan agar ECOM bisa kembali di bawah naungan Institut. Inti pada pertemuan tersebut DEMA sebagai penghubung antara organisasi mahasiswa (ORMAWA),dan membuat surat pengajuan pembuatan organiasi baru dibawah naungan Institut, yang ditujukan kepada Wakil Rektor (W.R 3) Dr. Sadiani, M.H. dan nantinya surat pengajuan tersebut akan diatur pembentukannya dan ditindaklanjuti oleh Senat Mahasiswa (SEMA) atas perintah W.R 3 Bagian kemahasiswaan. Senin, 19/8.  

Abu Singwan,Ketua ECOM

Pada awalnya ECOM telah dibentuk dibawah naungan Institut saat  kampus masih berstatus STAIN Palangka Raya dan pada masa jabatan Harles Anwar,M.Si. Namun beliau mencabut legalitas ECOM di bawah naungan institut lantaran penyalahgunaan sekretariat yang dilakukan oleh  salah anggota ECOM tersebut dan  karena itu Abu Singwan Al-Madani berambisi untuk dapat mengembalikan legalitasnya sebagai UKM diakhir masa jabatannya.

“Tujuan dari pembentukan UKM baru ini, kan tidak instan tentunya kita ada pertimbangan dan juga karena ECOM menjadi wadah yang bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam berbahasa inggris. Jadi kita dukung menjadi UKM dan berharap setelah kita rekomendasikan segera ditindak lanjuti oleh pihak-pihak yang terkait  juga dipermudah dalam waktu yang singkat ini semoga segera mendapatkan legalitasnya kembali” cakap Said Malik, selaku Ketua DEMA Institut.

Said Malik, ketua DEMA

Jadi ECOM sekarang membutuhkan legalitas mejadi UKM dibawah naungan institut, agar dapat bergerak lebih leluasa untuk mahasiswa intra kampus dan banyak hal yang bisa didapatkan ECOM. Kedepannya pada jabatan yang akan datang Abu Singwan berharap seluruh kegiatan ECOM dapat berjalan dengan baik dan mendapat pengawasan dari pihak kemahasiswaan baik yang  berhubungan dengan aggaran dan sebagiannya.

Rep:ARhm

Read Full Article

Oleh Najib

Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam, IAIN Palangka Raya.

Source ig PBAK 2019

PBAK 2019 baru saja terlaksana dan telah melalui masa dari sekian linimasa kegiatan di IAIN Palangka Raya. PBAK tahun ini mengangkat tema yang begitu larik asik, & Peran Mahasiswa Muslim dalam Kontestasi Peradaban Industri yang Mengedepankan Karakter Bangsa. Sekilas, tema yang terpatri untuk PBAK kali ini adalah tema yang memang benar-benar pas dengan isu-isu yang saat ini mencuat. Ia, yang dalam pidato penutup sang ketua panitia, meng-highlight dua isu besar, isu internasional dan nasional. Isu internasional itu adalah Revolusi Industri 4.0, sedangkan isu nasionalnya adalah karakter bangsa yang (katanya) terancam punah.

Tapi, di antara gemerlap dan gemilangnya perayaan PBAK ini, ada yang sebenarnya belum terjawab dari semua ini. PBAK 2019 mengangkat isu industrial, yang tidak semua mahasiswa akan jadi pekerja —ya kecuali semua Mahasiswa kita memang berpikir akan kerja apa nanti— dan tetek bengek peradaban industri, mempatrikan kepada kita semua bahwa kehidupan kampus pada akhirnya adalah persiapan untuk dunia kerja juga. Para mahasiswa baru dipertemukan dengan realita paling sederhana, lulus kuliah akan kerja apa?

Gus Muhammad Al-Fayyadl, seorang pegiat Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dan alumnus jurusan filsafat kontemporer dari Université Paris 8, Prancis, berpendapat bahwa penanaman dan pengajaran untuk tunduk dan ikut arus wacana-wacana industrialisasi yang masih kapitalistik, Revolusi (Kapitalis) Industri 4.0, kepada mahasiswa di kampus, agar potensi perlawanan terhadap  kapitalisme dan pembelaan terhadap kepenting rakyat dan kaum proletar menjadi jinak.

Alih-alih, PBAK mestinya menjawab (dan mengangkat) isu mengenai Indonesia yang saat ini menginternasional dan memang harus dijawab dan pasti dihadapi mahasiswa muslim: polarisasi & politisasi Islam. Atau bagaimana semakin mencuatnya eksistensi kelompok kanan yang cenderung memanfaatkan politik identitas, dalam hal ini, sekali lagi, Islam. Hal-hal tersebut sangat tergambarkan dalam tulisan Eka Kurniawan, di media Internasional, The New York Times, yang terbit pada Februari 2019 lalu. Di paragraf akhirnya, Eka menuliskan secara gamblang .No matter who ends up being president, conservative Islamic groups, backed by radical groups, will win — have already won — the election, bagaimana kelompok Islamis yang telah melakukan polarisasi dan politisasi atas Islam dan identitas Islam, akan menang, siapapun Presidennya.

Atau Pep Pepinsky, Profesor Kajian Pemerintahan di Cornell University dan Nonresident Senior Fellow pada Foreign Policy Program di Brookings Institution, yang melakukan penelitian mengenai Pembelahan Agama dan Etnis dalam Pilpres 2019, menunjukkan politisasi identitas agama, dalam hal ini Islam. Nahasnya lagi, politisasi identitas Islam, atau singkatnya politik identitas, ini menjalari sampai ke daerah-daerah dengan penganut Kristen, NTT. Politik identitas dan polarisasi di sana mencuat sejak pemilihan Gubernur Jakarta. &Polarization has deepened since Jakarta’s gubernatorial election two years ago, tulis Eka. Jika polarisasi dan politasi Islam dan identitas Islam ini terus berjalan dan semakin menjalar ke kelompok masyakarat lain, bukan tidak mungkin, eksistensi Indonesia berada di ambang perpecahan. Dan sebagai mahasiswa muslim di kampus Islam yang bersentuhan dengan hal-hal berkaitan inilah, mestinya mahasiswa dipersiapkan berurusan. Dunia Internasional sedang memandangi kita dan apa yang terjadi pada eleksi kita mengenai polarisasi dan politik identitas yang mencuat ini, dan kita, sebagai mahasiswa muslim, di kampus Islam, justru memperbincangkan Revolusi Industri 4.0 ?

Kemudian, isu nasional ialah karakter bangsa yang dicap akan punah, tergambar melalui logo orang utan, sebagai primata yang dilindungi. Untuk hal satu ini, saya bingung. Apa sebenarnya karakter kita, sebagai sebuah bangsa, yang hampir punah itu? Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa artifisial, yang baru muncul belakangan, terdiri atas berbagai macam bangsa. Bangsa-bangsa itu kemudian kita sederhanakan kata-katanya menjadi suku.

Ben Anderson, seorang Indonesianis, mengatakan bahwa sebuah bangsa itu adalah &imagined communities, bangsa terbayang. Ia adalah sekumpulan manusia yang disatukan dalam bayangan ke depan. Bukan ke belakang! Karakter bangsa tidak bisa punah, karena karakter itu kita bentuk, bukan dibentuk oleh orang dulu. Karakter bangsa itu berubah, bukan punah. Mengira bahwa karakter bangsa akan punah adalah sebuah kekeliruan berpikir yang banyak dipengaruhi oleh propaganda militer.

Kita tentu ingat dengan kejadian upaya kudeta yang dilakukan oleh pihak militer Turki kepada Erdogan pada 2016 lalu. Kudeta tersebut terjadi karena Erdogan melakukan upaya-upaya yang dianggap kelompok militer sebagai penghilangan karakter utama Turki, sekularisme. Militer dengan segala tindak tanduknya yang militeristik pula, merasa sebagai penjaga daripada karakter bangsa melakukan kudeta kepada pemerintah Turki yang sedang bertransformasi menuju wajah yang lebih Islam.

Hal di atas hanya sebagai analogi, jika kemudian apa yang dinarasikan sebagai karakter bangsa tersebut adalah sesuatu yang diwariskan, maka saya katakan, bahwa bangsa Indonesia dan karakternya bukan warisan. Jika ia warisan maka akan ada sebuah kelompok yang merasa mewarisinya, ahli waris. Dan bila sudah membahas warisan, saudara pun jadi musuh. Perebutan siapa yang paling pantas itu acap kali dengan kekerasan hingga penghilangan nyawa saudara kita. Bangsa kita adalah bangsa yang menuju sebuah tujuan bersama menaungi setiap manusia yang bernaung di bawahnya, bukan oleh sekelompok golongan manusia yang merasa ahli waris menyebut dirinya pribumi sambil meneriaki manusia lainnya sebagai aseng, anti-pancasilais, kafir, cino, dan sebagainya.

Syahdan, begitulah semua ini. Dari hal-hal yang tidak terjawab itu, saya ingin menerangkan bahwa para mahasiswa mestinya dipersiapkan sebagai penemu dan pencipta, bukan orang yang bersiap di meja bangku pekerja, melihat sintaksis-sintaksis tua, mendapuk diri mereka begitu nasionalis sambil menindas manusia lain hanya karena perbedaan kacamata. Utama paling utama lagi sebagai mahasiswa di kampus Islam mesti siap berhadapan dengan permasalahan politisasi Islam dan identitas Islam. Sehingga kiranya Islam tidak hanya menjadi kuda-kudaan bagi kesempatan politik praktis.

Akhirul kalam, tulisan ini jelas sekali adalah tulisan yang masih bisa digali dan diperdebatkan lagi. Dan merupakan awal dari gejolak-gejolak intelektual untuk menyambut mahasiswa baru. Menarik sebuah garis bias yang menandakan tradisi mahasiswa FUAD sebagai mahasiswa yang berdiri sebagai oposisi daripada pemerintahan mahasiswa institut, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa FUAD generasi sebelumnya. Tulisan ini saya haturkan sebagai ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru. Harapannya, ia dapat menjadi pemantik konflik horizontal antar intelektual mahasiswa lewat media mahasiswa.

Read Full Article

Oleh : Akhlakul Karimah

Hati bersenandung pilu

Menantikan angan nan syahdu

Jerit tangis tak terbendung di mataku

Emak dan bapak selalu membahu

Demi sang permata hati

Rela bertaruh nyawa sampai mati

Bodoh jika aku ingkari

Kesempatan tak datang ke dua kali

Angan-angan di depan mata

Sontak semangat membara

Menggapai cita-cita nyata

Yakin bisa ! aku bisa !

Ku perlihatkan sebuah perjuangan

Agar para pemuda tidak meremehkan

Ku perlihatkan sebuah pengorbanan

Agar para pemuda merasakan.

Read Full Article

Pembukaan materi hari kedua dimulai dari pukul 07.00-08.00 pagi, mengenai Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) yang sudah menjadi aplikasi wajib bagi perguruan tinggi saat ini. “Mengenai peralihan SIMAK  ke SIAKAD tentu bukan hal yang mudah bagi kami, karena itulah penting bagi mahasiswa baru ataupun lama agar mengikuti kegiatan sosialisasi perpindahan SIMAK ke SIAKAD nanti dan mengetahui bagaimana sistem kerjanya. Terlebih untuk pengisian KRS ataupun hal lain yang berhubungan dengan sistem perkuliahan melalui SIAKAD,” ucap H. Mukhlis Rohmadi, M.Pd. selaku pengurus UPT Pengembangan Bahasa IAIN Palangkaraya. Tujuan dari adanya SIAKAD ini untuk penataan data dalam mengelola akademik serta mempercepat dan mempermudah menyampaikan informasi kepada masyarakat kampus.

Materi yang kedua pada pukul 08.20-09.30 WIB disampaikan oleh Cecep Zakarias El Bilad, S.Ip, M.Ud. Perihal stabilitas ibadah dan keunggulan Ma’had al-Jamiah (pesantren kampus), yaitu sebagai wadah pembinaan mahasiswa baru dalam pengembangan karakter, keagamaan dan bahasa, serta menanamkan pelestarian tradisi spritualitas keagamaan yang merupakan tujuan utama dari pembinaan mahasantri ke dalam rangka pelaksanaan misi dan visi Ma’had Al-jami’ah IAIN Palangkaraya. Dilanjutkan oleh Nur Fuadi Rahman, M.Pd. yang menyampaikan mengenai program kegiatan dari Ma’had Al-jami’ah IAIN Palangka Raya. Mencakup kebutuhan mahasiswa sebagai mahasantri seperti kebahasaan, dianjurkan berbahasa inggris dan berbahasa arab sehari-harinya di lingkungan asrama, lalu sholat berjamaah, bimbingan membaca Al-qur’an serta menghapalnya, mempelajari fiqih nisa dan tentunya masih banyak lagi. “Kemampuan seseorang dalam menghapal al-Qur’an tergantung dirinya masing-masing. Pendaftaran Ma’had Al-Jamiah diperpanjang hingga 07 Agustus,” ucap Nur Fuadi Rahman, M.Pd. selaku pemateri mengenai ma’had Al-jami’ah IAIN Palangkaraya.

Materi selanjutnya mengenai kode etik mahasiswa yang disampaikan oleh Said Malik selaku ketua Dema Institut. Penting mengetahui kode etik mahasiswa, terutama untuk mahasiwa baru. Kode etik mahasiswa IAIN Palangkaraya tentunya bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan dan suasana kampus yang kondusif  dan juga  usaha untuk pembinaan mahasiswa dalam berprilaku serta bersikap dan berpakaian sesuai kode etik yang telah ditetapkan melalui keputusan Rektor IAIN Palangkaraya.

Terakhir, materi tentang moderasi beragama. Moderasi beragama adalah jalan tengah (moderat), paham yang mengambil jalan tengah. Tidak ekstrim kiri, tidak ekstrim kanan. Sedangkan moderasi beragama terfokus pada moderasi Islam.“Saya ingin menekankan kepada semua mahasiswa agar jangan sampai membawa pengaruh radikalisme,” ujar Dr. H. Sadiani selaku Wakil Rektor III IAIN Palangka Raya.

(Rp: Mirna & Murdia)

Read Full Article

Pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan 2019 resmi di buka, hal ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Wakil Rektor II Dr. Hj. Hamdanah, M.Ag pada hari Senin yang lalu.

Foto : Tim Rep Mumtaz

Dalam penyampaian pada amanatnya Dr. Sadiani M.H menghimbau mahasiswa baru untuk mengikuti PBAK 2019 dengan tertib dan baik.

“Pertama diawali pada pembukaan ini adalah terkait dengan masalah kedisiplinan, disiplin ini sangat penting sekali karena dalam kampus tampa adanya disiplin sulit rasanya untuk meraih suatu prestasi. Yang kedua mengenai kondisi diera jaman sekarang yang perlu dihindari adalah berkaitan dengan malsalah narkoba, ini adalah musuh kita yang bisa merusak generasi bangsa kita termasuk merusak cita-cita kalian, IAIN Palangka Raya adalah salah satu diantara perguruan tinggi yang anti narkoba oleh karena itu saya pesankan lebih awal jangn coba-coba melakukan hal terkait dengan masalah obat-obatan ini jika sampai ke telinga pimpinan maka anda akan di berhentikan dari kampus” ujar Sadiani.

Setelah resmi dibuka TNI-AD Mayor Inf Wijayato turut memberikan pemaparan materi yang mengangkat Tema: Peran Pemuda Dalam Mengawal Pertahanan Negara. Pada pemaparan tersebut dinyatakan bahwa dewasa ini kekuatan keragamannya mulai memudar dikarenakan perkembangan zaman mordern.

“Masalah yang saat ini yang menjadi tren yang mudah disusupi adalah kaum anak-anak muda, yang cepat di pengaruhi. Kenapa ? karena seperti ade-ade seperti sekarang ini yang baru tamat SMA lanjut kuliah di perguruan tinggi ini adalah tahap peralihan” ujar wiyanto. Maka disini ia mengajak generasi muda bangsa untuk berhati-hati, dengan kelompok-kelompok yang ingin memecah belah kesatuan bangsa kita.

Rep: AbRm

Fotographer : Tjun

Editor: WA

Read Full Article