Penulis: persmamumtaz

NESTAPA

Oleh: Arda Naridia Maharani

Saat itu, gerimis membasahi jalanan yang mulai sunyi

Jangkrik mulai mencaci mendung malam yang mulai menepi

Sorot cahaya sang rembulan remuk redam tertutup awan

Hanya rintikan hujan dan lambaian daun ilalang

Suara semilir angin sayup-sayup menjauh hilang…

Suara air mengalir menambah kecemasan hati

Luka hati yang menyeruak nan menyesakkan dada

Air mata mengucur bak larva gunung merapi

Dalam gelap gempita ia terus mencari

Bertanya pada sesiapa yang ia jumpai

Basarnas, tim relawan, bahkan pak polisi..

Dimana ibuku ?!

Dimana ayahku ?

Dimana saudaraku ?!

Dimana teman-temanku ?

Seraya menatap dengan mata berkaca-kaca

Berharap ada yang tahu dimana rimbanya..

Tak jauh diujung sana

Ditengah puing-puing petaka

Duduk termenung seraya mengorek reruntuhan

Dengan air mata berderaian

Luka gores masih menganga disiku tangan

Tak peduli seberapa pedih luka dibadan

Ia tetap termangu dalam diam, meratap penuh harapan

Detik itu, tak lagi didapati

Anak-anak dengan seragam merah putih

Berbaris rapi melaksanakan apel pagi

Penggembala yang merumput dipagi hari

Supir angkot yang menunggu penumpang

Ibu-ibu yang menunggu tuk3ang sayur jalanan

Bapak-bapak yang memikul cangkul dan menenteng bekal

Pun, suara adzan yang tak berkumandang…

Sekarang, mereka menahan sakit dan duka

Berjuang menemukan sanak saudara

Berharap semua masih bernyawa

Biarpun tak memiliki harta benda

Asalkan berkumpul dengan keluarga…

Jika tangan ini tak mampu mengulurkan asa

Jika raga ini tak dapat menjadi sandaran duka

Pun hanya sekedar air mata duka cita

Tapi, do’a ini terus menggema diangkasa

Untuk saudara di palu dan donggala…

*Sebuah karya yang berhasil masuk 100 besar puisi terbaik dari Event Hunter Indonesia.

Read Full Article

Karya: Abdul Rohman

Celana panjang hitam

Dengan baju kaos Oblong Yang Mengepas ditubuhnya

Tas berisi buku dan Laptop, terus memaksanya

Terus berjalan di senyap pukul satu malam

Seakan jalanan berkata aman-Aman-Aman

Dengan sedikit hembusan angin malam

Aku…..Aku…aku sepuluh tahun

Berlari dalam Rasa tuk membenahi diri

Pergi jauh puluhan kilo meter jaraknya dari tempat tidurku

Desa tepi hutan mengajaku

Di ibu kota untuk ruku’ dan sujud pada Rabbku

Aku….Aku…aku sepuluh tahun

Dijebak keranjang tipu daya pencitraan

Biasa telah jadi budaya

Rasa telah menjadi kebutuhan

Tuhan..Tuhan ..tuhan kuingin kembali pada-Mu

Dengan rahmat, hidayah dan ilmu-Mu

Dengan petunjuk yang tak pernah engkau berikan

selain kepada Para kekasih pilhan-Mu

Tuhan…. Aku Tau hidup ini sulit

Dengan demikian aku harus bangkit

Diam Akan Tertinggal

Maju Akan Hancur

Read Full Article

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan adalah salah satu agenda akademik yang mengawali pendidikan mahasiswa baru IAIN Palangka Raya.
Mahasiswa baru wajib untuk mengikuti kegiatan yang diisi dengan materi-materi terkait sistem pendidikan di IAIN Palangka raya dan menjadi sarana untuk mempelajari dan beradaptasi dengan sistem yang ada di bangku perkuliahan.
PBAK 2019 akan dilaksanakan pada awal Agustus, sejak dibuka pendaftaran pada 17 Juni yang lalu hingga 29 Juni diketahui jumlah mahasiswa baru yang telah mendaftar berjumlah 174 orang

“Dari hasil rekapan Div. Kestari, jumlah mahasiswa baru yang telah registrasi pendaftaran PBAK 2019 dari awal dibuka pendaftaran hingga 29 Juni itu sebanyak 174 orang, yang diperoleh dari mahasiswa baru jalur SPAN-PTKIN.” Ungkap Muhammad Ridwan selaku Koor Div.Kestari

Jumlah pendaftar masih terbilang aman terkendali dan belum mengalami lonjakan, namun pada awal Juni sehubungan dengan pengumuman jalur UM-PTKIN yang telah ditetapkan terdapat 506 orang mahasiswa baru yang lolos.
” Kami, Div.Humas berkoordinasi dengan panitia penerimaan mahasiswa baru dan menurut data yg sudah di input terdapat 506 orang mahasiswa baru yang lolos dari jalur UM-PTKIN” Ucap Muhammad Agus Saputra selaku anggota Div.Humas

Mahasiswa baru yang mendaftar PBAK 2019 diperkirakan mengalami lonjakan awal Juni yang berkaitan dengan hasil pengumuman jalur penerimaan mahasiswa baru mendatang
“Perkiraan dari Div.Kestari lonjakan peserta yang mendaftar PBAK 2019 dimulai dari awal bulan Juni karena dari data yang diterima hingga siang hari ini, sudah terlihat perbedaan jumlah yang meningkat dari hari sebelumnya” sambung Muhammad Ridwan kepada tim LPM Al-mumtaz. Senin,(1/07)

Dari sistem pendaftaran PBAK pada tahun ini, panitia lebih menyederhanakan prosesnya. Dimulai dengan menyiapkan formulir online yang dapat diunduh peserta melalui link dari panitia dan setelah melengkapi data yang diminta selanjutnya melakukan registrasi ke sekretariat pendaftaran PBAK 2019 di gedung D1.
“Dari sistem pendaftaran tidak ada perbedaan yang signifikan, hanya saja mahasiswa baru yang mendaftar PBAK dipersilahkan mengisi biodata pribadi di kamputer yang telah kami sediakan untuk menghindari kesalahan penulisan nama di sertifikat PBAK, jadi untuk biodata mahasiswa tidak di input oleh panitia” ujar Debi Fizar selaku Ketua Panitia.
“Untuk persiapan panitia berdasarkan hasil laporan perdivisi berkisar 65% , adapun kendala yang dialami salah satunya yaitu tempat pelaksanaan PBAK, mengingat terdengar kabar masjid lama akan di renovasi atau sebagainya. Meskipun kabar ini belum pasti tentunya ini menjadi titik fokus kami yang tidak mungkin terlewatkan” lanjutnya

Read Full Article

Oleh Abdulrahman

Sumber foto: jurnal apps.co.id

Media sosial merupakan kata yang sudah sering di dengar bahkan hingga sekarang telah menjadi suatu kebutuhan.Di jaman kekinian atau jaman now tidak bisa lepas dari yang dinamakan media sosial, jika saja jauh dari media social, serasa ada yang hilang dari hidup ini. Media sosial atau disebut juga dunia maya adalah mesin pelipat jarak, karena membuat yang jauh menjadi terasa dekat dan yang dekat terasa nyata adanya.

Media sosial jika kita ibarat akan seperti mulut manusia yang jika digunakan untuk berkata baik. Maka akan menimbulkan rasa positif pula seperti  termotivasi, terinspirasi, sehingga memunculkan energi positif yang menyebabkan orang lain tertular untuk baik dan lebih baik. Dan sebaliknya jika media sosial digunakan untuk berkata yang kurang baik seperti menebar kata-kata benci, kebohongan, adu domba dan segala hal yang merusak hubungan social secara kehiduapan nyata, ini merupakan kesalahan. Yang seharusnya tidak dilontarkan sebagai manusia yang berprikemanusiaan.

Alangkah baiknya jika media sosial digunakan untuk membagi hal-hal yang positif seperti dakwah islam, informasi yang bermamfaat untuk kehidupan sehari-hari, tips-tips kesehatan, informasi bantuan social, ajakan positif (kajian islam),dan sebagainya yang membantu kita kearah lebih baik dalam hidup ini, karena manusia baik itu laki-laki ataupun perempuan memiliki hak untuk terus belajar mengenai apa saja dalam kehidupan ini.

Sungguh tidak pantaslah jika media social digunakan untuk ajang pamer amal kebaikan sebagai usaha mencari citra kesalehan di mata teman, tetangga, dan lingkungan masyarakat. Jadi secara tidak langsung kita mengerjakan ibadah yang seharusnya untuk Allah subahanahuwata’ala, malah dimaksudkan untuk mencari kepopuleran dan kebanggaan diri, yang menyebakan kita lalai akan niat sedari awal hingga akhir mengerjakan ibadah tersebut.  

Jika dikhususkan lagi media sosial yang lebih positif, diibaratakan tangan tuhan yang setiap saat memberi kebaikan kepada siapapun. Dengan demikian media social bisa mejadi wasilah untuk menyampaikan informasi – informasi dari Allah subahanahuwata’ala yang dituliskan dalam kitab-NYA, baik itu berupa kata-kata, gambar, audio, video, dan sebagainya.

Media sosial merupakan kata yang sudah sering di dengar bahkan hingga sekarang telah menjadi suatu kebutuhan.Di jaman kekinian atau jaman now tidak bisa lepas dari yang dinamakan media sosial, jika saja jauh dari media sosial, serasa ada yang hilang dari hidup ini. Media sosial atau disebut juga dunia maya adalah mesin pelipat jarak, karena membuat yang jauh menjadi terasa dekat dan yang dekat terasa nyata adanya.

Media sosial jika kita ibarat akan seperti mulut manusia yang jika digunakan untuk berkata baik. Maka akan menimbulkan rasa positif pula seperti  termotivasi, terinspirasi, sehingga memunculkan energi positif yang menyebabkan orang lain tertular untuk baik dan lebih baik. Dan sebaliknya jika media sosial digunakan untuk berkata yang kurang baik seperti menebar kata-kata benci, kebohongan, adu domba dan segala hal yang merusak hubungan social secara kehiduapan nyata, ini merupakan kesalahan. Yang seharusnya tidak dilontarkan sebagai manusia yang berprikemanusiaan.

Alangkah baiknya jika media sosial digunakan untuk membagi hal-hal yang positif seperti dakwah islam, informasi yang bermamfaat untuk kehidupan sehari-hari, tips-tips kesehatan, informasi bantuan social, ajakan positif (kajian islam),dan sebagainya yang membantu kita kearah lebih baik dalam hidup ini, karena manusia baik itu laki-laki ataupun perempuan memiliki hak untuk terus belajar mengenai apa saja dalam kehidupan ini.

Sungguh tidak pantaslah jika media social digunakan untuk ajang pamer amal kebaikan sebagai usaha mencari citra kesalehan di mata teman, tetangga, dan lingkungan masyarakat. Jadi secara tidak langsung kita mengerjakan ibadah yang seharusnya untuk Allah subahanahuwata’ala, malah dimaksudkan untuk mencari kepopuleran dan kebanggaan diri, yang menyebakan kita lalai akan niat sedari awal hingga akhir mengerjakan ibadah tersebut.  

Jika dikhususkan lagi media sosial yang lebih positif, diibaratakan tangan tuhan yang setiap saat memberi kebaikan kepada siapapun. Dengan demikian media sosial bisa mejadi wasilah untuk menyampaikan informasi – informasi dari Allah subahanahuwata’ala yang dituliskan dalam kitab-NYA, baik itu berupa kata-kata, gambar, audio, video, dan sebagainya.

Read Full Article

KSR PMI Unit IAIN Palangka Raya mengadakan Musyawarah Anggota III bertempat di Aula Utama pada hari Sabtu,(18/05).

 Kegiatan yang Bertema membentuk organisasi yang memiliki jiwa solidaritas dan profesionalitas melalui musyawarah ini bertujuan agar mencapai kesepakatan bersama

Meskipun mengalami beberapa kendala pada saat mempersiapkan kegiatan namun kendala tersebut dapat di tangani dengan baik.


“Kami ingin membangun jiwa solidaritas antar organisasi dan bersifat profesional dalam menjalankan segala aktivitas intra di organisasi” Ucap Aulia selaku ketua Panitia MUSTA III. Setiap terlaksananya suatu kegiatan tidak menutup kemungkinan adanya berbagai kendala yang muncul pada saat persiapan hingga pelaksanaan. Namun meskipun mengalami hal serupa, Aulia menyebutkan bahwa panitia dapat mengatasinya.
” Kendalanya ini mengenai keuangan, untuk itu kami berinisiatif untuk menarik uang iuran dari seluruh anggota demi kelancaran kegaitan. Hasil dari iuran masih belum tercukupi sehingga kami pada akhirnya menggunakan uang kas yang telah terkumpul”. Sambungnya.

MUSTA III resmi dibuka oleh sambutan dari bapak Sadiani selaku Wakil Rektor III bidang kerjasama dan kemahasiswaan yang turut mengapresiasi kegiatan KSR Unit IAIN Palangka Raya.


“Kegiatan produktif mahasiswa menunjang akreditasi kampus karena masuk kepada penilaian. Jadi kegiatan seperti ini harus terus dilakukan dan fasilitasnya dipenuhi sesuai kebutuhan.” Ucap Bpk Sadiani pada sambutannya

Kepada ketua KSR PMI Unit IAIN Palangka Raya yg baru terpilih, Marhamah. Aulia dan rekan-rekan berharap agar mampu menyelesaikan program kerja dan dapat berjalan lebih baik lagi.
“Saya dan teman-teman berharap untuk kepengurusan yang baru ini dapat lebih baik lagi daripada sebelumnya, bertanggung jawab dan profesional dalam bekerja, kemudian selalu memberikan suntikan motivasi untuk anggota dan mampu melaksanakan program yang belum terselesaikan”Lanjut Aulia

Read Full Article

Oleh: Ghofar Nurvega

Saya termasuk orang yang sepakat bahwa pemilu adalah persoalan selera di mana diri akan menaruh kepercayaan, pilihan, dan harapan. Masing-masing kita memiliki kebebasan untuk memilih atau pun tidak memilih. Memilih silahkan, tidak memilih juga silahkan. Dua sikap itu setara pada level konstitusi – yang artinya, tidak ada seorang pun yang boleh melarang, mencegah, atau mengintervensi di mana kita akan menjatuhkan pilihan: memilih atau tidak memilih,

Dalam rangka memperpanjang rantai kedekatan sosial, saya percaya kita boleh mengajak seseorang atau kelompok untuk berpartisipasi memberikan suaranya di pemilu. Kita boleh kok mengajak individu untuk setuju dan patuh pada standar moral yang menurut kita itu baik, benar, rasional, mau pun etis. Tapi harus diingat, batas sosialisasinya hanya sampai di mengajak. Kita sama sekali tidak memiliki akses untuk memaksa, mengintimidasi,  juga memberi seseorang ragam stereotype dengan tendensi menghina hanya karena orang itu menolak setuju dengan ukuran atau sesuatu yang kita percaya.

Belakangan saya dibuat keberatan sikap DEMA IAIN Palangka Raya. Melalui akun instagram resminya, ia berupaya mengajak kita untuk tidak golput di pemilu. Sebagai sikap politik kelompok akademisi, tentu saja ini sah. Saya senang dan memberi apresiasi besar untuk hal ini, karena artinya, semangat demokrasi berhasil menjangkau kampus yang sedang saya tinggali. Akan tetapi, poin yang kemudian membuat saya terkejut adalah ketika pihaknya menyebut golput sebagai bentuk lain dari ketidakmampuan berpikir kritis.

Sekilas, pendefinisian itu terlihat keren dan memberitahu kita itulah gaya bahasa mahasiswa yang terlibat organisasi. Tapi bagi saya, klaim itu tidak lebih dari konstruksi nalar pragmatis yang lahir dari skema berpikir Megawati. DEMA IAIN Palangka Raya hanya berhenti di klaim, lupa memberi penjelasan. Padahal, bagian paling penting dari sebuah klaim adalah penjelasan. Barangkali orang-orang komunis juga akan setuju. Jika menurutmu itu tidak penting, saya kira tidak ada cara yang lebih terhormat untuk menghargai pernyataanmu selain mengolok-oloknya atau membuangnya ke tempat sampah. Jika menurutmu itu tidak penting, saya kira Anda adalah bagian dari homosapiens gagal evolusi.

Dari klaim itu bisa kita tarik kesimpulan bahwa DEMA IAIN Palangka Raya sedang ingin mengatakan pihaknya adalah manusia-manusia kritis, manusia-manusia dengan pikiran jenius dan penuh referensi ilmiah, atau manusia-manusia yang menggemari filsafat epistemologi. Tapi balik lagi ke faktanya, ia sama sekali tidak memberi penjelasan, cuma pernyataan. Artinya, tingkat intelektualitasnya perlu kita pertanyakan, kemampuan berpikir mereka perlu kita perdebatkan ulang. Ini kalau kita mau pakai logika lho.

Saya sepakat bahwa kita boleh membangun dikotomi antara A dan B. Misalnya, memilih (A) itu representasi nalar kritis dan tidak memilih (B) adalah wujud nyata kebebalan pikiran. Atau memilih itu sikap nasionalis, sementara golput itu jelek, misalnya. Silahkan, boleh saja. Itu mutlak hak dan dijamin konstitusi. Tapi dengan catatan bahwa itu harus dilandasi fundamental pikiran yang memadai sebagai wujud Anda manusia bertanggungjawab dan tahu diri. Jangan sembarangan asal menyatakan pandangan. Masa di satu sisi bereuforia atas berlangsungnya pesta demokrasi, tapi di sisi lain mereduksi instrumen demokrasi itu sendiri. Lho, emang golput instrumen demokrasi? Jelas. Demokrasi memberi ruang kepada siapa pun untuk memilih atau tidak memilih.

Memang golput bentuk lain dari ketidakmampuan berpikir kritis? Jelas bukan. Orang-orang yang bilang seperti itu saya sarankan untuk jangan berdelusi. Hidup di negara demokrasi mbok ya tolong cerdas dan melek media sedikit

Golput itu banyak hal. Maksudnya, kita bisa memaknai ini sebagai penanda ada yang kacau dengan bagaimana kita bernegara, ia bisa dipahami sebagai pisau analisa yang membedah bahwa ada kebijakan yang melupakan prinsip-prinsip kemanusiaan dan fungsi alam, dapat pula kita artikan sebagai satu upaya mempertanyakan ulang bagaimana demokrasi dan kritisisme warga negara hari ini.

Jika kita letakkan golput pada kerangka kritik untuk pemerintah hari ini (Jokowi), ia adalah sikap moral atas banyaknya kegagalan dan janji-janji pemilu 2014 yang tidak beliau penuhi. Misalnya dalam persoalan hak asasi manusia. Pada pemilu sebelumnya, Pak Jokowi berjanji akan menuntaskan segala kejahatan hak asasi manusia masa lalu seperti Munir, Marsinah, penculikan aktivis 1998, genosida 1965, DOM Aceh dan Papua, dan lainnya. Tetapi, hingga 4,5 tahun usia pemerintahannya, belum ada satu pun yang terpenuhi. Bisa dikatakan bahwa dalam hal ini, beliau gagal. Jenderal-jenderal yang diduga kuat terlibat kejahatan itu justru ada di barisan birokrasinya, salah satunya bahkan ada yang jadi menteri. DEMA IAIN Palangka Raya tahu siapa?

Tak cukup sampai di situ. Alih-alih menuntaskan kasus-kasus HAM, pemerintahan Jokowi justru menambah angka pelanggaran itu sendiri. Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang hingga 2 tahun tidak juga menemu titik terang, kasus kriminalisasi petani dan aktivis pejuang lingkungan hidup, dan mata rantai kekerasan terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah, dan Masyarakat Adat yang tidak juga diputus. Pada awal Januari lalu, dalam catatan akhir tahun yang diterbitkan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), konflik agraria pada medio 2014-2018 menyebabkan 41 orang meninggal, 546 orang dianiaya dan direpresi, serta 51 orang ditembak.

Apakah pemicu golput itu saja? Tentu tidak. Barangkali kita patut bersedih karena kebebasan berekspresi era pemerintahan Jokowi tidak beda jauh dengan zaman Orde Baru. Pada persoalan impor, coba suruh DEMA IAIN Palangka Raya mendata berapa jumlah impor yang dilakukan Jokowi. Padahal, masih dari janji pemilu 2014, beliau menyatakan tidak akan impor.

Jika kita bawa golput pada perdebatan pemilu 2019, ia adalah reaksi bahwa pemilu kali ini bukan pesta demokrasi, melainkan pesta oligarki. Pendefinisian ini historis, tidak seperti klaim DEMA IAIN Palangka Raya. Beberapa waktu lalu, Jaringan Aktivis Anti Tambang (JATAM) menerbitkan informasi visual terkait keberadaan para pebisnis tambang-tambang besar di Indonesia yang melingkari kedua paslon. Baik pihak 01 mau pun 02, keduanya sama-sama memiliki lingkaraan ini.

Di barisan Jokowi terdapat nama-nama besar seperti sang-menteri-serba-guna Luhut Binsar Pandjaitan, Fachrur Razi, Suaidi Marasabessy,  ketua Nasdem Surya Paloh, Wahyu Sakti Trenggono, Oesman Sapta Odang, ketua Perindo Hary Tanoesoedibjo, wapres kita Jusuf Kalla, dan nama-nama lainnya. Sementara di kubu Prabowo –tanpa mengecualikan Prabowo dan Sandiaga yang juga sama-sama memiliki tambang—adalah Tommy Soeharto, Soedirman Said, Hashim Djojohadikusumo, dan Zulkifli Hassan. Orang-orang inilah yang memberi sumbangan besar dalam hal pendanaan kampanye melalui praktik ijon politik.

Para oligark ini memiliki sumber daya tertentu, khususnya ekonomi. Dengan instrumen ini, para oligark secara otomatis memiliki jalur khusus untuk dapat posisi di jajaran birokrasi republik. Ini adalah skema pertukaran atau seperti yang saya sebut sebelumnya: skema ijon politik. Kalau pun oligark-oligark ini tidak mendapat keuntungan duduk di parlemen, dengan mereka ada di barisan kedua paslon, pihaknya dapat dengan mudah mengendalikan aparatur dan kebijakan negara. Mekanisme persekongkolan semacam ini dapat diartikan sebagai upaya oligark untuk mengendalikan wajah kebijakan dalam rangka melindungi, mempertahankan, sekaligus mengakumulasi jumlah kekayaan yang lebih banyak. Kebijakan itu, nantinya, berada di posisi yang pro terhadap dirinya (para oligark) atau segelintir orang ketimbang rakyat biasa.

Belum lagi, beberapa tambang yang dimiliki para oligark sendiri bermasalah. Seperti memicu krisis ekologis dan konflik horizontal. Sebagai contoh tambang yang dimiliki Sandiaga Uno di Tumpang Pitu, Banyuwangi. Tambang emas itu secara terang-terangan mengeruk sumber daya alam tanpa peduli fungsi gunung. Tentu masyarakat tidak tinggal diam, tapi di sini adalah masalah lainnya. Mereka yang menolak keberadaan tambang itu dikriminalisasi, dia adalah Budi Pego. Seorang petani yang kritis dan peduli lingkungan dikriminalisasi atas tindakan yang sama sekali tidak ia lakukan. Apa? Menyebarkan paham-paham komunisme. Sementara bukti ia melakukan itu tidak ditemukan. Inilah dampak dari adanya oligark di lingkaran kekuasaan.

Banyak orang di luar sana yang menyatakan golput dengan alasan yang rasional. Banyak dari mereka yang terlibat advokasi para petani korban kriminalisasi dan penggusuran atau alihfungsi lahan atas nama kemajuan pembangunan, banyak dari mereka yang ikut berjuang dalam hal pelestarian lingkungan, banyak dari mereka yang berlatarbelakang aktivis. Jadi sebenarnya adalah kurang tepat dan sikap nir-empati jika mengatakan golput sebagai bentuk lain dari ketidakmampuan berpikir kritis.

Apa yang dituduhkan DEMA IAIN Palangka Raya melalui instagramnya, sebenarnya, hanya akrobat ahistoris. Sekarang secara filosofis mendakwakan diri bahwa pihaknya adalah golongan homo sapiens kritis, tapi mengajak orang untuk berpartisipasi aktif gak pake argumen. Seandainya mereka sekritis yang mereka sebutkan, membangun penjelasan dan pesan-pesan politik tentu bukan perkara rumit. Saya kira aneh, ketika pihaknya demikian mendeskredit golput sementara tidak punya pemahaman mendalam soal golput. Sama artinya omong kosong akademisi.

Tapi biarlah. Manusia, antara satu dan yang lainnya, tentu tidak sama dan tidak bisa dipaksakan supaya sama. Ada manusia yang mengajak teman atau saudaranya dengan fundamental nalar yang ilmiah, ada juga yang mengajak orang dengan merendahkan opsi lainnya. Dalam hal ini adalah seperti apa yang dikatakan DEMA IAIN Palangka Raya: mengajak orang untuk memilih dengan cara merendahkan golput. Padahal bisa lebih dari itu, tentunya jika pikirannya mampu. Wallahu a’lam bish-shawab.

Read Full Article

Sumber:LPM Al-Mumtaz

Palangka Raya, Setelah dilantiknya Dr.H. Khairil Anwar M.Ag sebagai Rektor baru IAIN Palangka Raya periode 2019-2023 pada Senin(8/4) yang lalu, Dr. Ibnu Elmi A.S. Pelu, S.H, M.H selaku Rektor periode 2015-2019 menyerahkan jabatannya pada hari Selasa, (18/4) dalam acara Serah Terima Jabatan yang dilaksanakan di Aula utama IAIN Palangka Raya.

Acara berlangsung dengan khidmat ini dihadiri oleh jajaran senat, dosen,kepala biro, karyawan dan mahasiswa. Dalam sambutannya, Rektor lama Dr. Ibnu Elmi A.S. Pelu, S.H, M.H menyampaikan terimakasih karena pencapaian pada masa jabatannya ini tidak lepas dari kontribusi banyak pihak terkait.


“Saya berterimakasih dengan banyak pihak yang turut serta pada pencapaian yg telah terlaksana, membantu saya menjalankan amanah dan saya meminta maaf apabila dalam masa kepemimpinan terdapat salah dan khilaf. Pesan saya, Hormatilah Rektor sebagai pimpinan kampus juga dan untuk Dr. H. Khairil Anwar, M.Ag semoga dapat menjalankan amanah dengan kuat”. Tutur beliau.
Kemudian dalam sambutan dari Dr. H. Khairil Anwar, M.Ag menyatakan terimakasih atas kerja keras pada periode kepemimpinan Dr. Ibnu Elmi A.S Pelu, S.H, M.H dan mengungkapkan rasa syukurnya atas amanah yang diberikan.

“Saya berterimakasih atas kerja keras beliau yang telah menjadikan IAIN Palangka Raya hingga seperti sekarang. Dipilih menjadi Rektor adalah takdir bagi saya, kedepannya saya akan memperkuat akskelerasi profesor dan semoga kita menjadi lebih bersemangat.” Ucap Beliau.
Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang kuat (profesional) dan yang mampu menjalankan amanah yang diberikan. Sebagai pemimpin yang dipercaya untuk dapat merancang masa depan IAIN Palangka Raya, dan mewakili suara seluruh masyarakat yang ada di kampus tercinta.

Rep.WA

Read Full Article

Sumber foto: LPM Al-Mumtaz

Jumat (12/04) Bung Hatta Kalimantan Tour 2019 Roadshow diskusi musikal anti-korupsi diselenggarakan oleh Komunitas Bung Hatta Anti-Corruption Award atau biasanya di singkat dengan BHACA. Rangkaian acara bertempat di Aula utama IAIN Palangka Raya namun sebelumnya acara ini telah dilaksanakan di beberapa kampus di daerah Kalimantan. IAIN Palangka Raya sendiri berkesempatan menjadi tuan rumah pada urutan ke 5 pada agenda Roadshow.

Roadshow akan di lakukan di 3 kampus berikutnya di pulau Kalimantan. Meskipun acara ini terselenggara dua kali di Palangka Raya, antusiasme mahasiswa tetap masih membludak. Pesertanya adalah mahasiswa atau pelajar di Palangka Raya yang berjumlah ratusan sehingga sempat membuat panitia kewalahan untuk membagi fasilitas acara.

Di isi dengan diskusi musikali dimana pemateri yaitu Adnan Topan Husodo yang juga merupakan koordinator Indonesian Corruption watch dan grup musikal Simponi ini membawakan alur diskusi yang diselingi musik.

” menurut saya acara ini sangat banyak manfaatnya, selain kita bisa mendapatkan ilmu pembawaan diskusi ini tidak membosankan karena diselingi musik yang menyenangkan. Di acara ini saya tidak hanya lebih mengenal sifat-sifat mulia Bung Hatta tetapi juga ada pesan kepada generasi muda agar kita bisa membuat Indonesia bersih dari korupsi. Saya harap dengan adanya acara ini banyak generasi melenial yang tau bahwa betapa pahlawan kita Bung Hatta sangat menjujung tinggi prinsip anti korupsi yang tidak atau jarang kita dapatkan di masa sekarang ini ” ujar Ucha Mahasiswi prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam ini.

Dari terselenggaranya acara ini diharapkan muncul stimulus gerakan nyata mahasiswa anti korupsi. Aksi anti korupsi ini bisa dilakukan dari lingkungan kesehariannya. Baik dilingkungan pribadi, dilingkungan kampus bahkan di lingkungan tempat bekerja nanti.

Rep: Uswatun Hasanah

Read Full Article

Lembaga Olahraga Mahasiswa IAIN Palangka Raya menggelar kompetisi olahraga yang disebut dengan LORMA Cup II 2019 yang bertema “Junjung Tinggi Sportifitas dan Mempererat Silaturahmi antar Mahasiswa”, peresmian pembukaan kegiatan ini bertempat di Lapangan Utama IAIN Palangka Raya pada hari Sabtu, (13/4).
Pembukaan yang berjalan dengan lancar ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari UKK/UKM,DEMA Institut dan Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan Kerjasama yaitu Harles Anwar, M.Si.

“Saya mengapresiasi ketua Panitia yg bersedia acara pembukaan ini di laksanakan Outdoor, karena ini kan kegiatan olahraga jadi kita juga yg berhadir secara tidak langsung sedang berolahraga ditambah lokasi yg mendukung, Sehat.” Ucap Harles Anwar pada sambutannya.
Peresmian pembukaan kompetisi ini ditandai dengan tendangan bola ke gawang dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Harles Anwar, M.Si. Namun, Tendangan dilakukan hingga 2 kali karena pada sesi 1 tendangan bola gagal masuk pada gawang.
Mengenai persiapan hingga resmi dibukanya kegiatan pembukaan ini, Siti Atikah selaku Ketua Umum menyatakan mengalami beberapa kendala namun masih bisa diatasi bersama panitia pelaksana.

” Kami memaksimalkan fasilitas yang ada, meskipun memang ada beberapa kendala namun itu dapat diatasi. Kurangnya persiapan kami pada hari ini,semoga menjadi pembelajaran untuk lebih baik lagi untuk saya beserta teman-teman.” Ungkap Atikah.

Read Full Article

Sumber: tim lpm-almumtaz

Resimen mahasiswa satuan 605 ( MENWA ) IAIN Palangka Raya mengadakan gelar pasukan dan sekaligus penutupan pembaretan, yang dilaksanakan dilapangan terbuka IAIN Palangka Raya. Pembaretan merupakan penyempurnaan dari seluruh atribut yang digunakan oleh anggota pasukan MENWA. Kegiatan ini dibuka langsung oleh wakil rektor tiga Harles Anwar, M.Si. Seluruh kegiatan berjalan lancar, hanya saja pada saat gelar pasukan dan penutupan pembaretan di lapangan  sempat terguyur hujan, ( sabtu-minggu, 6-7/4/19 )

Para perserta pembaretan yang berjumlah 17 orang mengikuti kegiatan selama dua hari disi dengan pembekalan, dan hal yang wajib dkuti oleh peserta pembaretan adalah harus mengambil pembaretan dan melakukan long march dengan jarak 15-20 KM. Kemudian untuk pasukan yang mengikuti gelar siaga dikuti 11 satuan MENWA se-Kalteng, untuk menyambut Pilpres pada tahun ini. Komandan MENWA IAIN Palangka Raya mengatakan kegiatan apel siaga ini di laksanakan pertama kali pada tahun ini, melihat gejolak politik yang semakin memanas, maka dari komandan MENWA Maharaya melakukan inisiatif untuk melakukan apel siaga.

Kegiatan ini dihadiri oleh dilegasi dari setiap UKK/UKM, Wakil Rektor III Harles Anwar, M.Si dan dihadiri Komandan Maharaya Heru Sutiawan, SP.  Dalam wawancara tim Lpm Al-mumtaz,  Harles Anwar menyatakan  perkembangan MENWA IAIN Palangka Raya sudah cukup bagus dan juga beliau berharap kepada seluruh UKM khususnya UKM MENWA IAIN Palangka Raya, untuk kompak, solid dan memiliki sikap istiqomah untuk memajukan IAIN Palangka Raya yang islami di Kalimantan Tengah,  serta keterlibatan seluruh UKM yang nyata untuk berkordinasi kepada pimpinan IAIN Palangka Raya. Dan juga dalam sambutannya beliau menghimbau kepada seluruh lembaga kemahasiswaan yang ada di IAIN Palangka Raya baik pada tinggkat insitut maupun pada tingkat fakultas bersama-sama, berkordinasi dan kerjasama untuk saling membantu, memahami dan satu dalam langkah, satu dalam pikiran, semuanya adalah untuk IAIN Palangka Raya, ( Sabtu 6/4/19 ).

Kemudian dalam sambutan penutupan pembaretan satuan 605, Komandan Maharaya Heru Sutiawan, SP mengatakan kepada seluruh satuan MENWA yang hadir, agar melek terhadap perkembangan revolusi industri 4.0, maka harus bisa berdaya dan berkompetensi agar tidak tertinggal dengan perguruan tinggi yang lainnya. Dan ia juga mengatakan Panca Darma Resimen Mahasiswa Indonesia pada poin lima, kita harus mementingkan urusan Bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi maupun golongan. Maka berhubungan dengan Pilpres, kita menjaga kesatuan walaupun politik boleh beda, tapi Resimen Mahasiswa harus tetap bersama, Minggu( 7/4)

Rep:AbdRm

Read Full Article