Penulis: persmamumtaz

KSR PMI Unit IAIN Palangka Raya mengadakan Musyawarah Anggota III bertempat di Aula Utama pada hari Sabtu,(18/05).

 Kegiatan yang Bertema membentuk organisasi yang memiliki jiwa solidaritas dan profesionalitas melalui musyawarah ini bertujuan agar mencapai kesepakatan bersama

Meskipun mengalami beberapa kendala pada saat mempersiapkan kegiatan namun kendala tersebut dapat di tangani dengan baik.


“Kami ingin membangun jiwa solidaritas antar organisasi dan bersifat profesional dalam menjalankan segala aktivitas intra di organisasi” Ucap Aulia selaku ketua Panitia MUSTA III. Setiap terlaksananya suatu kegiatan tidak menutup kemungkinan adanya berbagai kendala yang muncul pada saat persiapan hingga pelaksanaan. Namun meskipun mengalami hal serupa, Aulia menyebutkan bahwa panitia dapat mengatasinya.
” Kendalanya ini mengenai keuangan, untuk itu kami berinisiatif untuk menarik uang iuran dari seluruh anggota demi kelancaran kegaitan. Hasil dari iuran masih belum tercukupi sehingga kami pada akhirnya menggunakan uang kas yang telah terkumpul”. Sambungnya.

MUSTA III resmi dibuka oleh sambutan dari bapak Sadiani selaku Wakil Rektor III bidang kerjasama dan kemahasiswaan yang turut mengapresiasi kegiatan KSR Unit IAIN Palangka Raya.


“Kegiatan produktif mahasiswa menunjang akreditasi kampus karena masuk kepada penilaian. Jadi kegiatan seperti ini harus terus dilakukan dan fasilitasnya dipenuhi sesuai kebutuhan.” Ucap Bpk Sadiani pada sambutannya

Kepada ketua KSR PMI Unit IAIN Palangka Raya yg baru terpilih, Marhamah. Aulia dan rekan-rekan berharap agar mampu menyelesaikan program kerja dan dapat berjalan lebih baik lagi.
“Saya dan teman-teman berharap untuk kepengurusan yang baru ini dapat lebih baik lagi daripada sebelumnya, bertanggung jawab dan profesional dalam bekerja, kemudian selalu memberikan suntikan motivasi untuk anggota dan mampu melaksanakan program yang belum terselesaikan”Lanjut Aulia

Read Full Article

Oleh: Ghofar Nurvega

Saya termasuk orang yang sepakat bahwa pemilu adalah persoalan selera di mana diri akan menaruh kepercayaan, pilihan, dan harapan. Masing-masing kita memiliki kebebasan untuk memilih atau pun tidak memilih. Memilih silahkan, tidak memilih juga silahkan. Dua sikap itu setara pada level konstitusi – yang artinya, tidak ada seorang pun yang boleh melarang, mencegah, atau mengintervensi di mana kita akan menjatuhkan pilihan: memilih atau tidak memilih,

Dalam rangka memperpanjang rantai kedekatan sosial, saya percaya kita boleh mengajak seseorang atau kelompok untuk berpartisipasi memberikan suaranya di pemilu. Kita boleh kok mengajak individu untuk setuju dan patuh pada standar moral yang menurut kita itu baik, benar, rasional, mau pun etis. Tapi harus diingat, batas sosialisasinya hanya sampai di mengajak. Kita sama sekali tidak memiliki akses untuk memaksa, mengintimidasi,  juga memberi seseorang ragam stereotype dengan tendensi menghina hanya karena orang itu menolak setuju dengan ukuran atau sesuatu yang kita percaya.

Belakangan saya dibuat keberatan sikap DEMA IAIN Palangka Raya. Melalui akun instagram resminya, ia berupaya mengajak kita untuk tidak golput di pemilu. Sebagai sikap politik kelompok akademisi, tentu saja ini sah. Saya senang dan memberi apresiasi besar untuk hal ini, karena artinya, semangat demokrasi berhasil menjangkau kampus yang sedang saya tinggali. Akan tetapi, poin yang kemudian membuat saya terkejut adalah ketika pihaknya menyebut golput sebagai bentuk lain dari ketidakmampuan berpikir kritis.

Sekilas, pendefinisian itu terlihat keren dan memberitahu kita itulah gaya bahasa mahasiswa yang terlibat organisasi. Tapi bagi saya, klaim itu tidak lebih dari konstruksi nalar pragmatis yang lahir dari skema berpikir Megawati. DEMA IAIN Palangka Raya hanya berhenti di klaim, lupa memberi penjelasan. Padahal, bagian paling penting dari sebuah klaim adalah penjelasan. Barangkali orang-orang komunis juga akan setuju. Jika menurutmu itu tidak penting, saya kira tidak ada cara yang lebih terhormat untuk menghargai pernyataanmu selain mengolok-oloknya atau membuangnya ke tempat sampah. Jika menurutmu itu tidak penting, saya kira Anda adalah bagian dari homosapiens gagal evolusi.

Dari klaim itu bisa kita tarik kesimpulan bahwa DEMA IAIN Palangka Raya sedang ingin mengatakan pihaknya adalah manusia-manusia kritis, manusia-manusia dengan pikiran jenius dan penuh referensi ilmiah, atau manusia-manusia yang menggemari filsafat epistemologi. Tapi balik lagi ke faktanya, ia sama sekali tidak memberi penjelasan, cuma pernyataan. Artinya, tingkat intelektualitasnya perlu kita pertanyakan, kemampuan berpikir mereka perlu kita perdebatkan ulang. Ini kalau kita mau pakai logika lho.

Saya sepakat bahwa kita boleh membangun dikotomi antara A dan B. Misalnya, memilih (A) itu representasi nalar kritis dan tidak memilih (B) adalah wujud nyata kebebalan pikiran. Atau memilih itu sikap nasionalis, sementara golput itu jelek, misalnya. Silahkan, boleh saja. Itu mutlak hak dan dijamin konstitusi. Tapi dengan catatan bahwa itu harus dilandasi fundamental pikiran yang memadai sebagai wujud Anda manusia bertanggungjawab dan tahu diri. Jangan sembarangan asal menyatakan pandangan. Masa di satu sisi bereuforia atas berlangsungnya pesta demokrasi, tapi di sisi lain mereduksi instrumen demokrasi itu sendiri. Lho, emang golput instrumen demokrasi? Jelas. Demokrasi memberi ruang kepada siapa pun untuk memilih atau tidak memilih.

Memang golput bentuk lain dari ketidakmampuan berpikir kritis? Jelas bukan. Orang-orang yang bilang seperti itu saya sarankan untuk jangan berdelusi. Hidup di negara demokrasi mbok ya tolong cerdas dan melek media sedikit

Golput itu banyak hal. Maksudnya, kita bisa memaknai ini sebagai penanda ada yang kacau dengan bagaimana kita bernegara, ia bisa dipahami sebagai pisau analisa yang membedah bahwa ada kebijakan yang melupakan prinsip-prinsip kemanusiaan dan fungsi alam, dapat pula kita artikan sebagai satu upaya mempertanyakan ulang bagaimana demokrasi dan kritisisme warga negara hari ini.

Jika kita letakkan golput pada kerangka kritik untuk pemerintah hari ini (Jokowi), ia adalah sikap moral atas banyaknya kegagalan dan janji-janji pemilu 2014 yang tidak beliau penuhi. Misalnya dalam persoalan hak asasi manusia. Pada pemilu sebelumnya, Pak Jokowi berjanji akan menuntaskan segala kejahatan hak asasi manusia masa lalu seperti Munir, Marsinah, penculikan aktivis 1998, genosida 1965, DOM Aceh dan Papua, dan lainnya. Tetapi, hingga 4,5 tahun usia pemerintahannya, belum ada satu pun yang terpenuhi. Bisa dikatakan bahwa dalam hal ini, beliau gagal. Jenderal-jenderal yang diduga kuat terlibat kejahatan itu justru ada di barisan birokrasinya, salah satunya bahkan ada yang jadi menteri. DEMA IAIN Palangka Raya tahu siapa?

Tak cukup sampai di situ. Alih-alih menuntaskan kasus-kasus HAM, pemerintahan Jokowi justru menambah angka pelanggaran itu sendiri. Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan yang hingga 2 tahun tidak juga menemu titik terang, kasus kriminalisasi petani dan aktivis pejuang lingkungan hidup, dan mata rantai kekerasan terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiyah, Syiah, dan Masyarakat Adat yang tidak juga diputus. Pada awal Januari lalu, dalam catatan akhir tahun yang diterbitkan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), konflik agraria pada medio 2014-2018 menyebabkan 41 orang meninggal, 546 orang dianiaya dan direpresi, serta 51 orang ditembak.

Apakah pemicu golput itu saja? Tentu tidak. Barangkali kita patut bersedih karena kebebasan berekspresi era pemerintahan Jokowi tidak beda jauh dengan zaman Orde Baru. Pada persoalan impor, coba suruh DEMA IAIN Palangka Raya mendata berapa jumlah impor yang dilakukan Jokowi. Padahal, masih dari janji pemilu 2014, beliau menyatakan tidak akan impor.

Jika kita bawa golput pada perdebatan pemilu 2019, ia adalah reaksi bahwa pemilu kali ini bukan pesta demokrasi, melainkan pesta oligarki. Pendefinisian ini historis, tidak seperti klaim DEMA IAIN Palangka Raya. Beberapa waktu lalu, Jaringan Aktivis Anti Tambang (JATAM) menerbitkan informasi visual terkait keberadaan para pebisnis tambang-tambang besar di Indonesia yang melingkari kedua paslon. Baik pihak 01 mau pun 02, keduanya sama-sama memiliki lingkaraan ini.

Di barisan Jokowi terdapat nama-nama besar seperti sang-menteri-serba-guna Luhut Binsar Pandjaitan, Fachrur Razi, Suaidi Marasabessy,  ketua Nasdem Surya Paloh, Wahyu Sakti Trenggono, Oesman Sapta Odang, ketua Perindo Hary Tanoesoedibjo, wapres kita Jusuf Kalla, dan nama-nama lainnya. Sementara di kubu Prabowo –tanpa mengecualikan Prabowo dan Sandiaga yang juga sama-sama memiliki tambang—adalah Tommy Soeharto, Soedirman Said, Hashim Djojohadikusumo, dan Zulkifli Hassan. Orang-orang inilah yang memberi sumbangan besar dalam hal pendanaan kampanye melalui praktik ijon politik.

Para oligark ini memiliki sumber daya tertentu, khususnya ekonomi. Dengan instrumen ini, para oligark secara otomatis memiliki jalur khusus untuk dapat posisi di jajaran birokrasi republik. Ini adalah skema pertukaran atau seperti yang saya sebut sebelumnya: skema ijon politik. Kalau pun oligark-oligark ini tidak mendapat keuntungan duduk di parlemen, dengan mereka ada di barisan kedua paslon, pihaknya dapat dengan mudah mengendalikan aparatur dan kebijakan negara. Mekanisme persekongkolan semacam ini dapat diartikan sebagai upaya oligark untuk mengendalikan wajah kebijakan dalam rangka melindungi, mempertahankan, sekaligus mengakumulasi jumlah kekayaan yang lebih banyak. Kebijakan itu, nantinya, berada di posisi yang pro terhadap dirinya (para oligark) atau segelintir orang ketimbang rakyat biasa.

Belum lagi, beberapa tambang yang dimiliki para oligark sendiri bermasalah. Seperti memicu krisis ekologis dan konflik horizontal. Sebagai contoh tambang yang dimiliki Sandiaga Uno di Tumpang Pitu, Banyuwangi. Tambang emas itu secara terang-terangan mengeruk sumber daya alam tanpa peduli fungsi gunung. Tentu masyarakat tidak tinggal diam, tapi di sini adalah masalah lainnya. Mereka yang menolak keberadaan tambang itu dikriminalisasi, dia adalah Budi Pego. Seorang petani yang kritis dan peduli lingkungan dikriminalisasi atas tindakan yang sama sekali tidak ia lakukan. Apa? Menyebarkan paham-paham komunisme. Sementara bukti ia melakukan itu tidak ditemukan. Inilah dampak dari adanya oligark di lingkaran kekuasaan.

Banyak orang di luar sana yang menyatakan golput dengan alasan yang rasional. Banyak dari mereka yang terlibat advokasi para petani korban kriminalisasi dan penggusuran atau alihfungsi lahan atas nama kemajuan pembangunan, banyak dari mereka yang ikut berjuang dalam hal pelestarian lingkungan, banyak dari mereka yang berlatarbelakang aktivis. Jadi sebenarnya adalah kurang tepat dan sikap nir-empati jika mengatakan golput sebagai bentuk lain dari ketidakmampuan berpikir kritis.

Apa yang dituduhkan DEMA IAIN Palangka Raya melalui instagramnya, sebenarnya, hanya akrobat ahistoris. Sekarang secara filosofis mendakwakan diri bahwa pihaknya adalah golongan homo sapiens kritis, tapi mengajak orang untuk berpartisipasi aktif gak pake argumen. Seandainya mereka sekritis yang mereka sebutkan, membangun penjelasan dan pesan-pesan politik tentu bukan perkara rumit. Saya kira aneh, ketika pihaknya demikian mendeskredit golput sementara tidak punya pemahaman mendalam soal golput. Sama artinya omong kosong akademisi.

Tapi biarlah. Manusia, antara satu dan yang lainnya, tentu tidak sama dan tidak bisa dipaksakan supaya sama. Ada manusia yang mengajak teman atau saudaranya dengan fundamental nalar yang ilmiah, ada juga yang mengajak orang dengan merendahkan opsi lainnya. Dalam hal ini adalah seperti apa yang dikatakan DEMA IAIN Palangka Raya: mengajak orang untuk memilih dengan cara merendahkan golput. Padahal bisa lebih dari itu, tentunya jika pikirannya mampu. Wallahu a’lam bish-shawab.

Read Full Article

Sumber:LPM Al-Mumtaz

Palangka Raya, Setelah dilantiknya Dr.H. Khairil Anwar M.Ag sebagai Rektor baru IAIN Palangka Raya periode 2019-2023 pada Senin(8/4) yang lalu, Dr. Ibnu Elmi A.S. Pelu, S.H, M.H selaku Rektor periode 2015-2019 menyerahkan jabatannya pada hari Selasa, (18/4) dalam acara Serah Terima Jabatan yang dilaksanakan di Aula utama IAIN Palangka Raya.

Acara berlangsung dengan khidmat ini dihadiri oleh jajaran senat, dosen,kepala biro, karyawan dan mahasiswa. Dalam sambutannya, Rektor lama Dr. Ibnu Elmi A.S. Pelu, S.H, M.H menyampaikan terimakasih karena pencapaian pada masa jabatannya ini tidak lepas dari kontribusi banyak pihak terkait.


“Saya berterimakasih dengan banyak pihak yang turut serta pada pencapaian yg telah terlaksana, membantu saya menjalankan amanah dan saya meminta maaf apabila dalam masa kepemimpinan terdapat salah dan khilaf. Pesan saya, Hormatilah Rektor sebagai pimpinan kampus juga dan untuk Dr. H. Khairil Anwar, M.Ag semoga dapat menjalankan amanah dengan kuat”. Tutur beliau.
Kemudian dalam sambutan dari Dr. H. Khairil Anwar, M.Ag menyatakan terimakasih atas kerja keras pada periode kepemimpinan Dr. Ibnu Elmi A.S Pelu, S.H, M.H dan mengungkapkan rasa syukurnya atas amanah yang diberikan.

“Saya berterimakasih atas kerja keras beliau yang telah menjadikan IAIN Palangka Raya hingga seperti sekarang. Dipilih menjadi Rektor adalah takdir bagi saya, kedepannya saya akan memperkuat akskelerasi profesor dan semoga kita menjadi lebih bersemangat.” Ucap Beliau.
Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang kuat (profesional) dan yang mampu menjalankan amanah yang diberikan. Sebagai pemimpin yang dipercaya untuk dapat merancang masa depan IAIN Palangka Raya, dan mewakili suara seluruh masyarakat yang ada di kampus tercinta.

Rep.WA

Read Full Article

Sumber foto: LPM Al-Mumtaz

Jumat (12/04) Bung Hatta Kalimantan Tour 2019 Roadshow diskusi musikal anti-korupsi diselenggarakan oleh Komunitas Bung Hatta Anti-Corruption Award atau biasanya di singkat dengan BHACA. Rangkaian acara bertempat di Aula utama IAIN Palangka Raya namun sebelumnya acara ini telah dilaksanakan di beberapa kampus di daerah Kalimantan. IAIN Palangka Raya sendiri berkesempatan menjadi tuan rumah pada urutan ke 5 pada agenda Roadshow.

Roadshow akan di lakukan di 3 kampus berikutnya di pulau Kalimantan. Meskipun acara ini terselenggara dua kali di Palangka Raya, antusiasme mahasiswa tetap masih membludak. Pesertanya adalah mahasiswa atau pelajar di Palangka Raya yang berjumlah ratusan sehingga sempat membuat panitia kewalahan untuk membagi fasilitas acara.

Di isi dengan diskusi musikali dimana pemateri yaitu Adnan Topan Husodo yang juga merupakan koordinator Indonesian Corruption watch dan grup musikal Simponi ini membawakan alur diskusi yang diselingi musik.

” menurut saya acara ini sangat banyak manfaatnya, selain kita bisa mendapatkan ilmu pembawaan diskusi ini tidak membosankan karena diselingi musik yang menyenangkan. Di acara ini saya tidak hanya lebih mengenal sifat-sifat mulia Bung Hatta tetapi juga ada pesan kepada generasi muda agar kita bisa membuat Indonesia bersih dari korupsi. Saya harap dengan adanya acara ini banyak generasi melenial yang tau bahwa betapa pahlawan kita Bung Hatta sangat menjujung tinggi prinsip anti korupsi yang tidak atau jarang kita dapatkan di masa sekarang ini ” ujar Ucha Mahasiswi prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam ini.

Dari terselenggaranya acara ini diharapkan muncul stimulus gerakan nyata mahasiswa anti korupsi. Aksi anti korupsi ini bisa dilakukan dari lingkungan kesehariannya. Baik dilingkungan pribadi, dilingkungan kampus bahkan di lingkungan tempat bekerja nanti.

Rep: Uswatun Hasanah

Read Full Article

Lembaga Olahraga Mahasiswa IAIN Palangka Raya menggelar kompetisi olahraga yang disebut dengan LORMA Cup II 2019 yang bertema “Junjung Tinggi Sportifitas dan Mempererat Silaturahmi antar Mahasiswa”, peresmian pembukaan kegiatan ini bertempat di Lapangan Utama IAIN Palangka Raya pada hari Sabtu, (13/4).
Pembukaan yang berjalan dengan lancar ini dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari UKK/UKM,DEMA Institut dan Wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan Kerjasama yaitu Harles Anwar, M.Si.

“Saya mengapresiasi ketua Panitia yg bersedia acara pembukaan ini di laksanakan Outdoor, karena ini kan kegiatan olahraga jadi kita juga yg berhadir secara tidak langsung sedang berolahraga ditambah lokasi yg mendukung, Sehat.” Ucap Harles Anwar pada sambutannya.
Peresmian pembukaan kompetisi ini ditandai dengan tendangan bola ke gawang dari Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Harles Anwar, M.Si. Namun, Tendangan dilakukan hingga 2 kali karena pada sesi 1 tendangan bola gagal masuk pada gawang.
Mengenai persiapan hingga resmi dibukanya kegiatan pembukaan ini, Siti Atikah selaku Ketua Umum menyatakan mengalami beberapa kendala namun masih bisa diatasi bersama panitia pelaksana.

” Kami memaksimalkan fasilitas yang ada, meskipun memang ada beberapa kendala namun itu dapat diatasi. Kurangnya persiapan kami pada hari ini,semoga menjadi pembelajaran untuk lebih baik lagi untuk saya beserta teman-teman.” Ungkap Atikah.

Read Full Article

Sumber: tim lpm-almumtaz

Resimen mahasiswa satuan 605 ( MENWA ) IAIN Palangka Raya mengadakan gelar pasukan dan sekaligus penutupan pembaretan, yang dilaksanakan dilapangan terbuka IAIN Palangka Raya. Pembaretan merupakan penyempurnaan dari seluruh atribut yang digunakan oleh anggota pasukan MENWA. Kegiatan ini dibuka langsung oleh wakil rektor tiga Harles Anwar, M.Si. Seluruh kegiatan berjalan lancar, hanya saja pada saat gelar pasukan dan penutupan pembaretan di lapangan  sempat terguyur hujan, ( sabtu-minggu, 6-7/4/19 )

Para perserta pembaretan yang berjumlah 17 orang mengikuti kegiatan selama dua hari disi dengan pembekalan, dan hal yang wajib dkuti oleh peserta pembaretan adalah harus mengambil pembaretan dan melakukan long march dengan jarak 15-20 KM. Kemudian untuk pasukan yang mengikuti gelar siaga dikuti 11 satuan MENWA se-Kalteng, untuk menyambut Pilpres pada tahun ini. Komandan MENWA IAIN Palangka Raya mengatakan kegiatan apel siaga ini di laksanakan pertama kali pada tahun ini, melihat gejolak politik yang semakin memanas, maka dari komandan MENWA Maharaya melakukan inisiatif untuk melakukan apel siaga.

Kegiatan ini dihadiri oleh dilegasi dari setiap UKK/UKM, Wakil Rektor III Harles Anwar, M.Si dan dihadiri Komandan Maharaya Heru Sutiawan, SP.  Dalam wawancara tim Lpm Al-mumtaz,  Harles Anwar menyatakan  perkembangan MENWA IAIN Palangka Raya sudah cukup bagus dan juga beliau berharap kepada seluruh UKM khususnya UKM MENWA IAIN Palangka Raya, untuk kompak, solid dan memiliki sikap istiqomah untuk memajukan IAIN Palangka Raya yang islami di Kalimantan Tengah,  serta keterlibatan seluruh UKM yang nyata untuk berkordinasi kepada pimpinan IAIN Palangka Raya. Dan juga dalam sambutannya beliau menghimbau kepada seluruh lembaga kemahasiswaan yang ada di IAIN Palangka Raya baik pada tinggkat insitut maupun pada tingkat fakultas bersama-sama, berkordinasi dan kerjasama untuk saling membantu, memahami dan satu dalam langkah, satu dalam pikiran, semuanya adalah untuk IAIN Palangka Raya, ( Sabtu 6/4/19 ).

Kemudian dalam sambutan penutupan pembaretan satuan 605, Komandan Maharaya Heru Sutiawan, SP mengatakan kepada seluruh satuan MENWA yang hadir, agar melek terhadap perkembangan revolusi industri 4.0, maka harus bisa berdaya dan berkompetensi agar tidak tertinggal dengan perguruan tinggi yang lainnya. Dan ia juga mengatakan Panca Darma Resimen Mahasiswa Indonesia pada poin lima, kita harus mementingkan urusan Bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi maupun golongan. Maka berhubungan dengan Pilpres, kita menjaga kesatuan walaupun politik boleh beda, tapi Resimen Mahasiswa harus tetap bersama, Minggu( 7/4)

Rep:AbdRm

Read Full Article

Mahasiswa IAIN Palangka Raya Raih Juara Lomba Kaligrafi tingkat Kabupaten Puruk Cahu. Sulastri Wulandari berhasil kalahkan banyak pesaingnya diajang MTQ di kabupaten. Dan kini ia akan mempersiapkan diri untuk MTQ di tingkat Provinsi di Palangka Raya. Tidak hanya itu, Sulastri memang sudah sering sekali menang Lomba kaligrafi di kabupaten dan terus mewakili ke tingkat Provinsi dan ini adalah kali keenamnya.

Sulastri wulandri seorang anak rantau dari kabupaten Puruk Cahu yang diam-diam menggoreskan mimpinya ke ibu kota kalimantan tengah. Dengan seribu harap dapat menjadi seorang yang dapat membina karir dibidang seni. Sulastri atau Lastri panggilan akrab kawan-kawan dikampus, kini telah meraih banyak penghargaan dalam berbagai ajang perlombaan tingkat kabupaten, kota hingga tingkat provinsi.

Sulastri dan bakatnya yang sudah terasah sejak masih duduk dibangku sekolah kini perlahan merajut karirnya dibidang pengembangan karya seni Kaligrafi. Kaligrafi inilah yang berhasil membuatnya mendapatkan sejumlah penghargaan dan berhasil menang dalam beberapa cabang lombang.

Setelah melalui seleksi tingkat kabupaten Puruk Cahu beberapa bulan yang lalu, Sulastri berhasil meraih kesempatan pula untuk mewakili kabupatennya dalam ajang lomba MTQ tingkat Provinsi di Palangka Raya. Sebagai seorang mahasiswa IAIN Palangka Raya jurusan Tadris Bahasa Inggris hal ini sangat membanggakan bagi kampus karena potensi yang dimiliki Lastri akan sangat bermanfaat untuk ikut meramaikan prestasi Mahasiswa IAIN Palangka Raya.

“Sebelum meraih kesempatan untuk bisa menang dalam ajang lomba yang ada, saya memerlukan persiapan dan pergorbanan yang banyak sebelumnya. Sejak sekolah saya sudah berlatih dan terus mengevaluasi hasil karya saya. Hingga saya dapat mengikuti  satu persatu perlombaan yang ada. Kalah dan menang itu bukan sebuah hasil bagi saya, melainkan proses yang luar biasa adalah hasil terbaik. Karena dengan begitu kita menghargai sebuah perjuangan bukan sekedar nilai semata”  ungkap Lastri ketika diwawancara beberapa waktu lalu.  

Sejak sekolah Lastri memang sudah berbakat dalam karya seni kaligrafi ini. Hingga dimasa kuliah ini ia pun tidak sekedar mengikuti lomba, tapi ia juga mengembangkan karya seni kaligrafinya dengan variasi sebagai hiasan kamar dan dinding rumah. Dengan modifikasi nama bertulisan arab dan asli goresan tangan yang sangat telaten, ia mengahasilkan karya yang banyak diminati masyarakat. Kini karya seni kaligrafinya telah masuk dalam ranah bisnis penjualan karya seni yaitu kaligrafi nama dan lainnya sesuai pesanan dari konsumen.

“ketika sebuah keahlian menjadi sebuah nilai, disitulah kita akan menyadari pentingnya proses yang berat dimasa lalu” ungkap Sulastri, ia juga sangat berharap kedepannya usaha membuat kaligrafinya dapat terus berkembang. Dan permohonan doa dari semua teman-teman dan dosen untuknya agar dapat menang dalam perlombaannya MTQ tingkat provinsi di Palangka Raya.

Rep:AbdRm

Read Full Article

LPM Al-Mumtaz IAIN Palangka Raya, Pada hari Selasa (9/04) Bawaslu Provinsi Kalimantan Tengah melalui program Bawaslu Goes to Campus menyelenggarakan Sosialiasi Pengawasan Pemilu Pemilih Pemula Tahun 2019 di Aula Utama IAIN Palangka Raya

Ketua Bawaslu Provinsi Kal-Teng, Satriadi menjelaskan bahwa Program ini bertujuan untuk mengajak generasi millennial maupun mahasiswa untuk terlibat dalam mengkawal jalannya pesta demokrasi dan mencegah terjadinya pelanggaran pada setiap tahapan Pemilu 2019.

“untuk Mahasiswa, kami meminta partisipasinya untuk terlibat pada proses pengawasan Pemilu, caranya bisa memantau secara langsung proses Pemilu di TPS, bisa juga melakukan pengkajian tentang pemilu kemudian apabila menemukan pelanggaran ya harapan kami dapat melapor, karena Mahasiswa yang memiliki hak pilih juga memiliki hak untuk melapor” Jelas Satriadi.

Sosialisasi yang dihadiri oleh Satriadi selaku ketua Bawaslu Prov. Kal-Teng dan Siti Wahidah selaku anggota Bawaslu Prov. Kal-Teng ini disambut dengan baik oleh Ketua SEMA institut dan Wakil Ketua DEMA institut. Dan  perwakilan UKK/UKM, ORMAWA setiap fakultas dan sejumlah Mahasiswa IAIN Palangka Raya sebagai peserta sosialisasi

“Kita sebagai Mahasiswa sudah seharusnya peka terhadap keadaan sosial dan membuka mata terhadap suatu pelanggaran yang ada disekitar mengenai Pemilu ini. Kampus yang bersih dari unsur politik sudah seharusnya dipertahankan karena kita memiliki Kode Etik dan GBHO” Pungkas Ilham Ma’ruf selaku Ketua SEMA Institut.

“saya rasa ini adalah salah satu cara Bawaslu untuk kembali menyadarkan dan mengajak kita untuk mengawasi jalannya pemilu 2019 ini, karena pada dasarnya seluruh masyarakat mempunyai hak mengawasi pemilu, saya sebagai wakil Presiden Mahasiswa turut mendukung dan mengapresiasi kegiatan positif ini, Terimakasih Bawaslu” ungkap Debi Fizar,Wakil Ketua DEMA Institut.

Bawaslu memiliki slogan “Bersama Rakyat Awasi Pemilu”, menjunjung tinggi asas demokrasi dan mencegah terjadinya praktik politik uang. Kemudian berwenang menerima dan meindaklanjuti laporan yang berkaitan dengan dugaan adanya pelanggaran, namun dengan terselenggarakannya kegiatan ini tim LPM Al-Mumtaz dan narasumber menemukan kekurangan yaitu belum maksimal menjelaskan secara rinci terkait mekanisme cara melaporkan suatu pelanggaran.

Rep:WA

Read Full Article

Sumber gambar:www.kiblat.com

Waktu terasa begitu cepat terus menjauh dari sang penerima wahyu, yang megajak manusia kepada ketaatan yang hakiki. Sehingga banyak manusia menjadi lupa apa yang seharusnya ia lakukan di dunia ini, apakah untuk bersenang-senang? Ataukah untuk taat kepada sang maha khaliq, yang setiap saat memberi rezeki kepada setiap manusia. Dengan begitu pula cepatnya waktu berjalan menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi semakin pesat. Berbagai kemudahan demi kemudahan terus di dapatkan manusia, yang terasa jauh menjadi terasa dekat, yang dulu terasa lambat sekarang terasa cepat dan yang dulu dikira tidak mungkin sekarang bisa menjadi kenyataan.

Perkembangan ilmu pengetahuan teknologi di zaman sekarang ini, sudah menjadi trend yang menjadikan semua orang ingin bisa menikmati dan menguasainya.Namun sebenarnya ada yang lebih keren sebelum teknologi itu ditemukan yaitu ketika Allah subahanahuwata’ala mengwahyukan al-Qur’an kepada Nabi Muahammad salallahualaihiwasslam


Bahkan Rasulullah salallahualaihiwasallam mengatakan dalam sabdanya:“Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur’an), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan sepuluh kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif, lam, mim satu huruf, tetapi alif satuh uruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf”.

( HR Tirmidzi ).

Selain itu pula kelak pada hari kiamat al-Qur’an akan menjadi syafa’at bagi pembacanya. Sehingga kurang tepat jika kita terus mencari dan mempelajari ilmu dunia, tanpa melihat dan memahami wahyu yang di turunkan Allah subahanahuwata’ala kepada Rasulullah salaulahualaihiwasallam. Dengan mempeajari dan memahami isi al-Qur’an selain mendapatkan penemuan-penemuan baru, kita juga telah menanam investasi akhirat sebaimana nabi katakana mengucapkan satu huruf al-Qur’an mendapatkan sepuluh kebaikan.

Read Full Article

Habis Sekolah Mau Ngapain?

Pertanyaan ini sering terbesit dalam benak anak SMA/SMK yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional. Bagi yang mempunyai rencana yang mungkin sudah diatur oleh orang tua dan sudah di dukung biaya, pasti tinggal mengikuti jalan yang sudah dipersiapkan. Tapi bagaimana dengan yang tidak? Bagaimana dengan mereka yang memang tidak pernah ada keinginan untuk kuliah dan mungkin hanya angan-angan saja. Dan tujuan mereka adalah mencari uang.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, mayoritas lapangan pekerjaan yang tersedia memilih merekrut karyawan atau pekerja mereka dengan latar belakang D3 atau S1 untuk mengisi posisi yang perusahaan butuhkan. Sedangkan lulusan SMA/SMK menurut mereka masih minim skill dan keahlian yang dibutuhkan perusahaan. Berarti kita semua mau tidak mau harus kuliah?!

            Ya, jenjang pendidikan perkuliahan kini menjadi syarat wajib jika ingin mendapat pekerjaan layak atau mengisi posisi di perusahaan. Pergeseran eksistensi pedidikan yang mulai merambah ke dunia perkuliahan membuat dunia perkuliahan menjadi hal yang wajib bahkan lumrah untuk sekarang. Sehingga jika ingin bekerja, kuliah lah. Pertaannya, bagaimana jika ingin kuliah dan ingin bekerja? Apa bisa? Ya, tentu saja bisa. Bukan rahasia lagi Mahasiswa sekarang menunjang kebutuhan perkuliahan mereka dengan bekerja lepas di setiap sela jam kosong kuliah.

Ini adalah trend yang sedang digandrungi oleh para mahasiswa. Bahkan tidak perlu meninggalkan perkuliahan, dengan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang mahasiswa sekarang tidak perlu lagi meninggalkan tempat bahkan absen mengikuti perkuliahan. Ya, cukup akses internet saja dan transaksi bisnis jual beli online pun terjadi.

            Ini merupakan peluang yang besar, selain mendapatkan ilmu, kita juga mendapatkan pengalaman bisnis yang dapat menambah wawasan kita. Dan tidak menutup kemungkinan kita dapat membiayai kuliah kita dengan hasil jerih payah kita sendiri.

            Orang yang kerja terkadang masih ada beban pikiran, “harus kuliah, harus selesaikan tugas, harus presentasi kelompok”…dan lainnya. Mulailah melangkah, atur waktu mu dan jalankan mimpimu. Keputusan ada di tangan kita, tinggal bagaimana kita menjalankannya.

Oleh:SYHRN

Read Full Article