Penulis: persmamumtaz

Pada tanggal 22-23 Maret 2019 PIK-R Barigas IAIN Palangka Raya mengadakan Festival Remaja Barigas di aula utama IAIN Palangka Raya dengan tema “Ketika GenRe Berkarya“. Diawali dengan Talkshow Remaja “Hindari Perilaku Negatif Remaja, Bersama Kita lawan, Kita Mampu, Kita bisa”. Kegiatan yang berlangsung pada pukul 08.00 – selesai ini dihadiri oleh beberapa narasumber tamu yaitu Hilyatul Asfia, SH, Oktarina Wulandari Y Garib, S.Pd, Muhammad Hasfi, SH. Dalam pemaparannya dari ketiga narasumber tamu banyak berbagi pengalaman dan sekaligus memberi solusi permasalahan remaja yang sangat menginspirasi peserta.

Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan lomba yang disiapkan panitia pelaksaan Festival Remaja Barigas. Diantaranya adalah Rangking 1, Mading 3D, Lomba Karikatur, Pentas Kreasi, Foto Kreatif, dan Video Kreatif yang diikuti PIK-R sekota Palangka Raya dengan jumlah peserta 55 orang. Kemudian pada acara malam penutupan PIK-R Barigas IAIN Palangka Raya juga sekaligus menjadi acara serah terima jabatan secara simbolis kepada kepengurusan baru yang di wakili oleh Darti Pramesti.

“Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun,namun pada tahun 2018 mengalami beberapa kendala. Salah satunya adalah libur semester ganjil sehingga kegiatan ini baru terlaksana pada tahun 2019 sebagai wujud dari program kerja tahunan PIK-R Barigas IAIN Palangka Raya dan harapan untuk ke depannya antusiasme dari peserta lomba sendiri lebih banyak dan segala persiapan juga lebih matang lagi dari kami” ujar Siti Aviaturrosyiah selaku ketua panitia Festival Remaja Barigas.

Pembina PIK-R Barigas IAIN Palangka Raya bapak Drs. Fahmi.M.Pd mengatakan, hal terpenting dalam mempersiapkan cikal bakal generasi milenial saat ini adalah dengan menerapkan Informasi konseling yang terarah dalam melangkah dan mengambil keputusan agar dapat menghindari perilaku yang negatif. Dengan mengikuti kegiatan pada program PIK-R yang membuka wawasan tentang pentingnya perencanaan yang mana juga berpengaruh pada kehidupan setiap individu dan melek informasi tentang narkotika yang berbahaya. Karenanya sebagaimana kegiatan yang selaras dengan program PIK-R telah banyak mengarahkan para generasi milenial pada kegiatan positif.

Rep: A.Rhman

Read Full Article

Lembaga Persma IAIN Palangka Raya-
   Dewan Eksekutif Mahasiswa IAIN Palangka Raya mengadakan sosialisasi donor darah bekerja sama dengan PMI cabang Kota Palangka Raya. Kegiatan ini berlangsung di Aula Fakultas Syariah pada hari Sabtu,(16/3)

   “Acara ini bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa, dan kita juga berharap dapat menumbuhkan rasa kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya donor darah, selain itu juga agar mahasiswa dapat berkontribusi dengan masyarakat pada umumnya” ucap Muhammad Said Malik selaku ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa.

Kebutuhan darah di Indonesia per tahun mencapai sekitar 5,1 juta kantong darah, sementara yang terpenuhi hanya sekitar 4,2 juta kantong darah.
   “Kebutuhan darah di kota Palangka Raya ini mencapai angka 400-500 kantung setiap bulannya. Tapi dari jumlah tersebut kita baru bisa memenuhi sekitar 25 persen dari kebutuhan atau sekitar 100 kantung,” ucap novita riani selaku pemateri.
“Angka yang kurang dari target ini mengakibatkan banyak rumah sakit masih sering mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan transfusi darah. Kami berharap dan menghimbau agar setiap instansi pemerintah maupun swasta di kota Palangka Raya dapat rutin gelar aksi donor darah. Kami juga mengharapkan masyarakat umum lebih meningkatkan kesadaran dan kepedulian dalam membantu sesama yang membutuhkan transfusi darah” lanjutnya

   Dalam upaya pemenuhan persediaan kantong darah, saat ini PMI telah bekerjasama dengan sejumlah universitas dan komunitas yang ada di Palangka Raya para program donor darah. Mereka mengajak UKK dan UKM serta seluruh mahasiswa IAIN Palangka Raya untuk mengsukseskan kegiatan sosialisasi dan kegiatan donor darah.

Rep:Mir&Dyan

Read Full Article


Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia( IPEMI) Provinsi Kalimantan Tengah gelar ajang pemilihan Duta Muslimah Preneur yang terbuka bagi seluruh muslimah Indonesia yang berjiwa entrepreneurship,berwawasan luas, pandai berbahasa asing dan juga pandai membaca Al-Qur’an. Para finalis merupakan perwakilan muslimah terbaik dari masing-masing  yaitu 13 kabupaten dan 1 kota se-Kalimantan Tengah.
            Penilaian yang dilakukan oleh IPEMI Provinsi Kal-teng selaku penyelenggara berlangsung cukup ketat, presentase penilaian tersebut terdiri dari 60% kegiatan Interview dan sisanya ditentukan pada malam Grand Final.
            17 Maret 2019 lalu diadakan Grand Final yang bertempat di Rumah Betang Mandala Wisata di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Mahasiswa Sarjana Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Palangka Raya, Putri Ajahra berhasil mengukir prestasi sebagai Juara 1 Duta Muslimah Preneur Kal-teng 2019.


            “Kesannya sangat baik karena di ajang ini saya bisa mendapatkan pengalaman yang tidak bisa saya beli dimanapun, saya mendapatkan ilmu tentang kewirausahaan dan ilmu berharga lainnya” tutur Putri, mahasiswa program studi Bimbingan Konseling Islam.
            Tugas utama sebagai Duta Muslimah Preneur sendiri adalah memberikan ide-ide kreatif dan segar untuk pembangunan dan pengembangan IPEMI kemudian bersedia menjalankan kampanye IPEMI di sosial media, bersedia memberikan input wirausaha kepada masyarakat dan mengajak para perempuan muslimah yang mau berwirausaha atau mengembangkan usaha untuk menjadi bagian dari generasi muda IPEMI.
            “ Saya mempersiapkan diri untuk mengikuti pemilihan Duta Muslimah Preneur ke tingkat Nasional. Setelahnya saya akan merealisasikan Inovasi yang saya miliki yaitu sesuai dengan program kerja IPEMI, warung muslimah dan bazaar dimana didalamnya saya ingin menjual kuliner dan kerajinan tangan khas Kalimantan Tengah”. Putri menambahkan bahwa pemilihan Duta Muslimah Preneur ini kedepannya harus dipersiapkan dengan matang dan menarik lebih banyak finalis.

WA(23/03)
Read Full Article

Indonesia  merupakan negara kepulauan yang memiliki 17.508 pulau baik besar maupun kecil, dimana penduduk antara satu pulau dengan pulau yang lain tidak merata dalam komposisi jumlahnya, hal ini disebabkan karena kepadatan penduduk lebih berfokus pada pusat-pusat pemerintahan. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah menggulirkan program transmigrasi ke berbagai daerah yang dianggap masih luas wilayahnya dibanding dengan jumlah penduduk yang mendiami wilayah tersebut, seperti Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

Papua yang letaknya di ujung timur Indonesa yang memiliki luas 3 kali pulau Jawa secara geografis berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu Papua Nuguni. Memiliki keberagaman kultur budaya, adat istiadat dan agama ini disebabkan karena perpaduan budaya asli Papua dan pendatang yang berasal dari luar Papua. Para pendatang yang tersebar sampai pada pelosok-pelosok Papua umumnya adalah para transmigran yang mendiami daerah-daerah tersebut sejak digulirkannya program transmigrasi oleh pemerintah pusat. Pluralitas etnis, agama dan budaya merupakan sebuah realita yang ada di propinsi Papua, ini dapat dilihat dari salah satu sudut kota Jayapura yaitu wilayah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nuguni adalah kampung Skouw Sae, dimana penduduk asli beragama Kristen Protestan, sedangkan para pendatangnya banyak sebagai pemeluk muslim yang umumnya para transmigran yang berasal dari wilayah luar Papua, yaitu berasal dari Jawa, Maluku dan ada pula yang berasal dari Sulawesi. 

Realita sekarang yang terjadi di kampung Skow Sae, kerukunan umat beragama sangatlah tinggi sehingga membawa dampak yang sangat positif untuk kenyamanan dan perdamaian, sehubungan dengan kerukunan atau toleransi yang sangat patut untuk dicontoh, penulis mencoba menelusuri bagaimana nilai toleransi umat beragama di kampung Skow Sae? Yang saat ini masih menjadi kampung yang tetap hidup rukun damai dan saling mengasihi.

Sungguh tidak diragukan lagi masyarakat Skouw Sae sudah patut dijadikan contoh untuk masyarakat yang ada di daerah lain yang juga memiliki keragaman dalam hal perbedaan yang memang semestinya menjadi ciri khas Indonesia tapi tetap satu untuk mencapai tujuan yang sama yaitu perdamaian dan kesejahteraan masyarakatnya.

Kemudian apa yang terjadi di kampung Skouw Sae terkait masalah toleransinya yang menjadi sangat patut untuk dicontoh. Ada beberapa keunikan yang dilakukan umat Islam dan Kristen di perbatasan timur Indonesia ini. Kejadian yang saat ini masih eksistensi adalah bagaimana umat Islam menghormati agama kristen, ketika hari minggu sebagai mana umat Kristen sedang beribadah, umat Islam bersepakat serentak untuk tidak bekerja demi menghargai umat agama lain yang sedang melakukan ibadahnya. Begitupun sebaliknya yang dilakukan agama pemeluk Kristen kepada pemeluk agama Islam ketika hari jum’at umat yang beragama Kristen juga tidak mau bekerja karena demi menghargai umat Islam yang sedang menunaikan kewajiaban shalat jum’at. Para pedagang kalau sudah memasuki hari minggu pagi sampai menjelang siang semua toko mereka tutup, jalanan pun sepi di kala hari minggu ketika mereka melakukan ibadah. Hal ini terjadi hampir seluruh daerah kota Jayapura sampai sekarang ini.

Selain dari itu kebersamaan mereka dalam gotong royong juga terjadwal setiap bulannya sehingga untuk menciptakan lingkungan yang baik dan silaturrahmi tetap terjaga, selalu saja apa yang mereka lakukan tidak terlepas dari kebersamaan, hal ini terlihat di saat hari-hari biasa, kalau kita lihat lebih jauh lagi, kalau tepat dengan hari yang sangat istimewa misalnya hari Paskah, agama Islam pun juga ikut membantu untuk membersihkan gereja agar terwujud peribadahan yang nyaman dan bersih. Sebaliknya lagi agama kristen juga tidak pernah alpa untuk bersama-sama dalam membangun masjid bahkan sesosok kepala kampung pun turun tangan untuk mengecat masjid yang ada di kampung Skouw Sae.

Selain dari itu, misalnya hari besar Islam, sebut saja Isra Mi’raj jangan salah dengan agama Kristen di kampung Skouw Sae Ini, mereka berdatangan untuk memenuhi undangan Isra dan Mi’raj yang dilakukan oleh umat Islam bahkan ada yang memberi sambutan sebelum acara inti dimulai. Tidak ada kata yang kurang yang dilakukan masyarakat Islam Kristen Perbatasan ini dalam mengujutkan  toleransi demi ketuhanan yang maha esa.

Sungguh ironis di negara kita ini masih banyak yang kurang mengerti arti kebersamaan itu, padahal kebersamaan itu indah. Beberapa tahun terakhir banyak terjadi perpecahan dalam bangsa ini, perbedaan budaya dan keyakinan kerap kali menjadi pemicu terjadinya konflik dan kekerasan antar umat beragama. Kurangnya kesadaran toleransi dan saling menghargai antar sesama merupakan hal yang memperihatinkan bagi bangsa ini. Masyarakat perkotaan atau perdesaan tak jarang saling sikut, saling olok, dan berseteru karena perbedaan keyakinan dan pemahaman. Padahal keberagaman dan perbedaan bisa menjadi kekuatan bangsa ini untuk membangun Indonesia yang lebih maju dan progresif. Untuk menjaga persatuan bangsa indonesia tidak ada salahnya kita memahami betul makna toleransi yang sesungguhnya. Toleransi adalah menghargai, membolehkan, kebiasaan, kekuatan dan lain sebagainya. Tillman menjelaskan bahwa toleransi adalah saling menghargai melalui pengertian dengan tujuan perdamaian.

Kebebasan beragama menurut Islam adalah hak asasi bagi setiap individu apakah sebagian kita lupa kepada perkataan Nabi? Bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan Man adza dzimmiyan faqod adzany (barang siapa mencela kelompok non muslim berarti mencela saya). Artinya nabi menginginkan perdamaian dan saling menenghormati satu dan yang lainnya, inilah yang dilakukan sejak zaman nabi dan yang dilakuakan oleh para sahabat dan ulama sampat saat ini. Oleh sebab itu perlu kita gali bersama-sama nilai-nilai yang dibawa Islam sesungguhnya itu memang benar untuk kemaslahatan linnas (semua manusia).

Dalam artikel ini penulis kira cukuplah menjadi contoh untuk menuju perdamaian dan kesejahteraan bangsa ini, apa yang dilakukan oleh masyarakat yang ada di perbatasan Indonesia mereka berbeda agama sama seperti Indonesia pada umumnya, bukan hanya di perbatasan. Maka patutlah kita mencoba untuk tetap hidup rukun dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan masyarakat kampung Skouw Sae (Perbatasan Indonesia dan Papua Nugini).

KKN Lintas Nusantara merupakan tempat atau ruang untuk pemuda dan pemudi Indonesia berekspresi, berkarya, berfikir, bertindak, berubah dengan membawa bangsa ini agar lebih baik. Sumbangsih pemikiran gagasan dan tenaga semuanya di kerahkan hanya untuk Indonesia tercinta. Melalui  bentuk kerjasama antar perguruan tinggi IAIN Fatahul Mulk Jayapura, IAIN Jember dan IAIN Palangka Raya, yang salah satu tujuannya adalah sebagaimana telah di sampaikan oleh kepala P3M pak Parto saat pembekalan dan perkenalan mahasiswa KKN Lintas Nusantara yaitu untuk membangun generasi-generasi yang Rahmatan Lil ‘Alamin (IRA) senada seperti yang dikatakan oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. TGB. Zainul Majdi, Lc. MA. Dalam acara pembukaan lombok Yauth Camp 2018 yang semua pesertanya adalah 200 perta pemuda dan pemudi se PTKIN di- Indonesia. “Untuk Indonesia Pemuda adalah harapan, dan untuk Indonesia pemuda adalah kejayaan”. Sangat jelas sekali bahwasanya bangsa ini menaruh harapan yang sangat besar terhadap pemuda dan pemudi yang berjiwa Islam Rahmatan Lil A’lamin.

Sebagai kesimpulan dari artikel ini. Bahwa membangun toleransi itu sangatlah mudah, perlunya di antara kita yang ragam perbedaan ini saling menurunkan rasa egoisme masing-masing walaupun berbeda keyakinan dan pemahaman. Masyarakat Skouw Sae sudah mencontohakan itu, bahkan lebih. Mereka sudah sampai ke tahap satu kesatuan, jalinan kasih sudah ada dalam kehidupan mereka, dan ini terlihat dari perilaku dan perbutan mereka sehari-hari sejak dulu sampai sekarang.

Maka dari itu, Melalui artikel atau tulisan yang sederhana ini penulis mengharapkan agar bisa dibaca oleh setiap kalangan, mungkin kalau tidak banyak yang bisa membuat diri kita sadar sedikitpun tidak jadi masalah, karena hidup ini tidak lepas dari proses. Proses untuk berubah menjadi yang terbaik. Toleransi yang telah dilakukan masyarakat Skow Sae secara sederhana tertulis dalam buku ini, semoga pemuda dan pemudi lainya mampu menyempurnakan hal-hal yang belum diketahui sehingga ke depan bisa menjadi rujukan yang paling kuat dan pegangan untuk kita semua. 

Oleh: Ahmad Fakhri Hasan

Read Full Article

Al-Qur’an memberikan definisi baru terhadap penelitian mengenai fenomena alam semesta serta membantu manusia berfikir untuk melakukan terobosan baru terhadap batasan mengenai alam materi.

Al-Qur’an menjelaskan sebenarnya materi itu bukanlah sesuatu yang kotor tak bernilai, melainkan terdapat tanda-tanda yang membimbing manusia menuju jalan Allah serta hal yang gaib dan keagungan-Nya. Al-Qur’an mengajak manusia untuk menelitinya, mengungkap keajaiban yang tersembunyi, serta selalu berusaha memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah ini untuk kesejahteraan hidup. Jadi, Al-Qur’an membawa manusia kepada Allah melalui ciptaan-Nya dan realitas fakta yang terdapat di alam semesta. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh ilmu pengetahuan, yaitu: mengadakan observasi atau penelitian, lalu melibatkan hukum-hukum alam berdasarkan observasi dan uji coba. Dengan itulah ilmu pengetahuan dapat mencapai yang maha menciptakan melalui observasi yang diteliti dan tepat terhadap hukum-hukum yang mengatur fenomena alam. Al-Qur’an menunjukkan kepada fakta yang ada terhadap kuasa Allah yang Maha Besar pada ciptaan-Nya.


Ilmu pengetahuan adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam, sebab kata islam itu sendiri, dari bahasa arab yaitu kata dasar aslama yang artinya Herman model “tunduk patuh”, mempunyai makna “tunduk dan patuh terhadap ketentuan Allah”. Allah menegaskan bahwa seluruh isi alam semesta, baik di langit maupun di bumi, selalu berada dalam ketentuan islam yaitu ketentuan Allah. 


Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS Az-Zumar Ayat 9). 


Potongan dari ayat di atas adalah salah-satu bentuk teguran Allah SWT agar manusia senantiasa mempelajari ilmu pengetahuan, terutama penjelasan dan sabda Allah didalam  Al Qur’an. Ayat tersebut juga merupakan penekanan pada para ulama yang memiliki Ilmu pengetahuan. Sepantasnya teguran-teguran itu membuat orang-orang muslim sadar betapa pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan untuk hidup dan juga tentunya menjadi sebuah pendorong untuk kita bisa berfikir secara ilmiah.


Allah memberikan petunjuk dan kemudahan pada manusia agar terus menggali Ilmu pengetahuan dan rahasia yang ada alam semesta ini yang tentunya menggambarkan kebesaran ciptaan-Nya. Semua itu Allah jelaskan dalam Al Qur’an sebagai contoh: firman Allah,”Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani ( yang disimpan ) dalam tempat yang kokoh (Rahim) kemudian air mani itu kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu kami jadikan segumpal daging, lalu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian, kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain . maha suci Allah, pencipta yang paling baik.” (QS Al Mukminun 39: Ayat 12-14) 


Surat Al Mukminun itu apabila kita teliti lebih dalam, menjelaskan tentang bagaimana proses terciptanya manusia, dari proses pembuahan sampai perkembangan janin di dalam rahim yang hingga sampai sekarang dipakai dunia kedokteran untuk menjelaskan pertumbuhan bayi di dalam rahim. Sungguh Allah Maha kuasa, dan mengetahui segala yang ada di langit dan di bumi. Sebelum orang-orang Eropa berhasil mengungkapkan proses perkembangan janin dalam rahim, Al Qur’an sudah menjelaskannya pada 1500 tahun yang lalu.


Selanjutnya Allah menurunkan Ayat Al-Qur’an yang pertama kepada Rasulullah SAW merujuk kepada keutamaan ilmu pengetahuan, yakni memerintahkannya membaca sebagai kunci ilmu pengetahuan, dan berdakwah sebagai alat perubahan yang sukses ilmu pengetahuan.


Allah berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”(QS. Al-‘Alaq ayat 1-5). Ini adalah Surat yang pertama kali Allah turunkan dalam Al-alaq 1-5.


Al Qur’an merupakan mukjizat yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk digunakan sebagai pedoman umat manusia hingga akhir zaman. Petunjuk dari Allah tentu isinya dari Al Quran tidak akan menyimpang dari hukum alam karena semesta adalah hasil ciptaan Allah sedangkan Al Qur’an adalah dari firman Allah SWT.  Allah bersifat maha adil dan segala-galanya, maka tidak mungkin Allah berfirman tanpa bukti atau fakta. Lalu keutamaan orang yang berilmu juga disebutkan dalam Al-Qur’an sejumlah ayat yang menyatakan keutaman ilmu dan pemiliknya, Allah berfirman : “ wahai oranng-orang  ynag beriman, apabila dikatakan kepadamu, “berilah kelapangan didalam majelis-majelis”, maka lapangkanlah,niscaya Allah akan memberikan kelpangan untukkmu, dan apabila dikatakan, “berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman  di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan,”  (QS. Al-Mujadilah ayat 11) Pada Ayat ini jelaslah bahwasanya Allah memuliakan orang-orang yang berilmu dan menuntut ilmu yang ikhlas karena Allah SWT.


“Allah  menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain dia;demikian pula para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain dia, yang maha perkasa,maha bijaksana”. (QS. Ali Imran ayat 18). Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa keutamaan orang-orang yang berilmu karena Allah dan menyatakan bahwa mereka juga mengakui-Nya dan mengakui para malaikat-Nya, sesungguhnya Dialah sesembahan yang patut disembah, yang tidak diperkenankan menyembah kecuali hanya kepada-Nya. Pernyataan ini menyatakan keseluruhan dzat Allah yang bersaksi, ialah Allah sendiri, juga mencakup keagungan hal yang menyatakan kepadanya, yaitu perihal keutamaan beribadah, sebagaimana hanya Dialah yang pantas  dan berhak untuk disembah. Adapun kesakdian para malaikat dan orang yang berilmu setelah pernyataan dari Allah sesungguhnya menunjukkan  keutaman malaikat serta orang-orang yang berilmu.

Read Full Article

Selama empat belas abad ini, khazanah intelektual Islam diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan Alquran. Setiap mufassir (penafsir Alquran) berusaha menafsirkan Alquran dengan perspektif yang dipilihnya sesuai latar berlakang disiplin keilmuannya, lingkungan sosio-politik di mana ia hidup, mazhab teologis, mazhab fiqh dan sebagainya. Dengan demikian, tumbuhlah dengan pesat tradisi penafsiran Alquran dengan lahirnya berbagai kitab tafsir dan mazhab yang terbentuk atas dasar masing-masing tafsir tersebut. Misalnya, tafsir teologis, filosofis, sufistis, hukum, saintis dan sebagainya (Lihat, misalnya, al-Zahabiy 1986).

Namun, terdapat kecenderungan yang umum dari berbagai perspektif dan pendekatan tafsir tersebut bahwa para mufassir menafsirkan Alquran secara ayat-per ayat sesuai susunannya dalam mushaf dan pemahamannya lebih didasarkan pada pendekatan filologis-gramatikal. Cara penafsiran seperti ini dinamakan ‘metode tafsir analitis’ (al-ittijah al-tajziy fi al-tafsir). Konsekuensi logisnya, kecenderungan ini telah menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong-potong) tentang pesan-pesan Alquran. Tujuan semula untuk memperoleh pesan-pesan Alquran secara integral menjadi terabaikan. Pada kenyataannya, pendekatan ini sering melepaskan ayat dari konteks kesejarahannya akibat dipengaruhi oleh tujuan untuk mendukung sudut-pandang tertentu. Gagasan-gagasan asing atau prakonsepsi-prakonsepsi sering dipaksakan ke dalam Alquran tanpa memperhatikan konteks kesejarahan dan kesusastraan kitab suci ini seperti yang tampak pada tafsir dengan pendekatan teologis, filosofis dan sufistis dan saintis.

Kenyataan ini –bahwa metode penafsiran Alquran secara ayat-per ayat yang telah memperlakukan Alquran secara “tidak adil”– telah mendorong para pakar tafsir modern untuk menyusun sebuah metode penafsiran yang dapat mengungkapkan pandangan-dunia Alquran secara integral. Metode ini dinamakan ‘pendekatan tematik atau sintesis’ (al-ittijah al-tauhidy aw al-maudu’iy fi al-tafsir).

Essay ini akan membahas apa urgensi tafsir tematik bagi Muslim modern. Ia berargumen bahwa tafsir tematik merupakan metode tafsir alternatif penting yang harus dikembangkan oleh sarjana dan ulama Islam modern untuk mengungkapkan pandangan-dunia al-Quran dalam upaya menjadikan Alquran sebagai petunjuk dalam kehidupan modern. Untuk itu, pada bagian selanjutnya, artikel ini membahas dasar-dasar penafsiran metode tematik, menjelaskan langkah-langkah operasional tafsir tematik, menjelaskan kelebihan metode tematik dibanding metode analitik, dan, terakhir, menjelaskan nilai strategis tafsir tematik bagi upaya penggalian pandangan-dunia Alquran bagi dunia modern.

Dasar-dasar Penafsiran Metode Tematik

Metode tafsir ini dinamakan ‘tematik’ karena ciri pertamanya adalah memulai dari sebuah tema yang berasal dari kenyataan eksternal dan kembali ke Alquran dan disebut ‘sintesis’ karena berupaya untuk menyatukan pengalaman manusia dengan Alquran. Namun, ini tidak berarti bahwa metode ini berusaha untuk memaksakan pengalaman atau kenyataan eksternal kepada Alquran dan menundukkan Alquran kepadanya. Sebaliknya, ia menyatukan keduanya (pengalaman-kenyataan dan Alquran) dalam konteks sebuah pencarian tunggal yang ditujukan untuk sebuah pandangan Alquran mengenai suatu pengalaman atau kenyataan tertentu atau gagasan tertentu yang dibawa mufassir ke dalam pencariannya. Selain itu, metode tafsir ini disebut ‘tematik’ atas dasar cirinya yang kedua, yakni mengumpulkan semua ayat yang berhubungan dengan sebuah tema yang sudah ditentukan. Ia sintesis karena ia melakukan sintesa terhadap ayat-ayat berikut artinya ke dalam pandangan-dunia Alquran.

Metode tematik tidak sepenuhnya orisinil corak tafsir abad 20. Metode ini sebenarnya berpijak pada diktum yang terdapat dalam ulumul qur’an, tapi ironisnya tidak dikembangkan oleh para mufassir klasik, yaitu al-munasabat bain al-ayat wa al-suwar, dan al-Qur’an yufassiru ba’duh ba’da (al-Suyuti 1988, Juz 3; al-Qattan, t.t., 97-99).

Para tokoh Muslim yang dipandang sebagai penggagas metode tematik adalah Aisyah Abdurrahman bint asy-Syathiy yang mengemukakan metode ini dalam karyanya al-Tafsir al-Bayany li al- Qur’an al-Karim (1962), Abdul Hayy al-Farmawy dalam al-Bidayah fi al-Tafsir al-Maudu’iy (1977), dan Muhammmad Baqir Shadr yang merumuskannya dalam artikelnya, Pendekatan Tematik terhadap Tafsir Alquran (1990) dan dalam karyanya Sejarah dalam Perspektif Alquran (1993).

Sebelum melakukan penafsiran, seorang calon mufassir tematik hendaknya berpijak pada pandangan-pandangan yang menjadi dasar penafsiran metode tematik yang berfungsi sebagai penunjuk arah dalam menafsirkan Alquran (Amal dan Panggabean 1992:34-62). Pertama, Alquran adalah petunjuk bagi manusia (al-Baqarah/2:185; Ali Imran/3:3-4, 138). Alquran haruslah selalu dapat memberikan bimbingan kepada manusia dalam hidup dan kehidupannya. la harus memberikan jawaban atas persoalan-persoalan kemanusiaan dan menjadi sumber makna dan nilai dalam kehidupan manusia.

Kedua, sebagai pertunjuk Tuhan bagi manusia, pesan-pesan Alquran bersifat universal (al-Anbiya/21: 107; al-Furqon/25: 1; Saba/34: 28). Keuniversalan dan keabadian Alquran tidak hanya terletak pada wujud material teks Alquran (doktrin ketidakmampuan manusia atau mahluk lainnya membuat satu surat pun semisal Alquran[al-Baqarah/2:23-24]), melainkan juga terutama pada ajaran-ajarannya yang mampu menjawab problematika kehidupan manusia di mana saja, kapan saja.

Ketiga, Alquran diwahyukan dalam situasi kesejarahan yang kongkret. Ia merupakan respon (sahutan) Ilahi terhadap situasi keagamaan, keyakinan, pandangan-dunia dan adat istiadat masyarakat Arab. Konteks kesejarahan ini mencakup kesejarahan pra-Alquran dan masa Alquran. Yang terakhir ini istilah teknisnya dalam ilmu tafsir disebut asbab al-nuzul (sebab-sebab pewahyuan).

Keempat, memperhatikan konteks sastra Alquran. Yakni konteks di mana suatu tema atau istilah tertentu muncul atau digunakan dalam Alquran. Ia mencakup ayat-ayat yang sebelum dan sesudah tema atau istilah tersebut serta rujukan silangnya kepada konteks-konteks relevan yang terdapat di surat-surat lain. Ini dimaksudkan untuk memahami makna suatu istilah atau tema, perubahan makna atau perkembangannya di dalam sistem linguistik.

Kelima, memahami tujuan Alquran yang dirumuskan dari kajian-kajian yang melibatkan konteks kesejarahan dan konteks literer suatu tema untuk menetapkan pandangan-dunia Alquran. Pandangan-dunia ini menjadi pedoman dalam menyelesaikan problematika masyarakat. Inilah yang dinamakan penyelesaian Qur’ani.

Dasar penafsiran terakhir, mufassir memproyeksikan pandangan dunia Alquran kepada situasi kekinian untuk mememihi kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Jargon Alquran salih li kulli zaman wa makan (Alquran berlaku untuk semua masa adan temapat) akan bermakna bila menempuh upaya ini.

Dasar-dasar penafsiran di atas semuanya diarahkan kepada penyelesaian Qur’ani dan petunjuk praktis atas berbagai persoalan-persoalan kemanusiaan dalam konteks kekinian. Pada konteks inilah terletak keabadian dan keuniversalan Alquran.

Langkah-langkah Operasional Tafsir Tematik

Berangkat dari keenam dasar penafsiran yang dikemukakan di atas, dapat dirumuskan langkah-langkah operasional yang harus ditempuh dalam menerapkan metode tematik (al-Farmawy 1997; Boulatta 1974; bint Syathi 1977) sebagai berikut:

1.   Menetapkan masalah atau tema yang akan dibahas;

2.   Mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah atau tema tersebut;

3.   Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya (kronologis ayat dan surat) disertai pengetahuan tentang asbab al-nuzul –nya;

4.   Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing;

5.   Menyusun kerangka pembahasan (outline);

6.   Melengkapi pembahasan dengan hadis-hadis dan riwayat-riwayat yang relevan dengan pokok bahasan; dan

7.   Mempelajari ayat-ayat secara keseluruhan dengan cara menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama atau mengkompromikan antara yang ‘am (umum) dan yang khas (spesifik), mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga semuanya bertemu dalam suatu muara, tanpa perbedaan atau pemaksaan.

Kelebihan Metode Tematik

Menurut Muhammad Baqir al-Shadr, metode analitik yang selama ini mendominasi cara penafsiran di kalangan Muslim pada kenyataannya telah menghambat perkembangan tafsir itu sendiri dan sebaliknya metode tematik justru mendorongnya dan membawa kepada perluasan kreatif dalam lingkup ijtihad (al-Shadr 1990:32). Karena itu, metode tafsir tematik memiliki peranan penting dalam upaya menjadikan Alquran petunjuk hidup (hudan) bagi kehidupan manusia kontemporer dalam menghadapi tantangan dan problema modernitas. Terdapat beberapa alasan mengapa metode tematik diyakini dapat memainkan peran penting bagi kehidupan Muslim modern (al-Shadr 1990: 31-32).

Pertama, berbeda dari mufassir metode analitik yang umumnya pasif, mufassir dengan metode tematik bersikap aktif dengan mendialogkan antara kenyataan dan Alquran. Mufassir metode analitik memulai penafsirannya dengan membahas sebuah naskah Alquran tertentu, misalnya, sebuah ayat atau kalimat tanpa merumuskan dasar-dasar pemikiran atau rencana terlebih dahulu. Kemudian ia mencoba untuk menetapkan pengertian Alquran dengan bantuan perbendaharaan Alquran dan berbagai indikasi yang ada padanya dalam naskah khusus tersebut atau di luar naskah itu. Maka dapat dikatakan usahanya ini terbatas pada penjelasan sebuah naskah Alquran tertentu. Dalam hal ini, peran naskah serupa dengan pembicara dan tugas mufassir ialah mendengarkan dengan penuh perhatian dan memahaminya. Jadi, peran mufassir pasif sementara Alquran memainkan peranan aktif karena Alquran menonjolkan arti harfiahnya dan mufassir mencatatnya di dalam tafsirnya pada batas-batas pemahamannya.

 Sebaliknya, mufassir yang menggunakan metode tematik tidak memulai aktivitasnya dari naskah Alquran, tetapi dari realitas kehidupan. Ia memusatkan perhatiannya pada sebuah subyek dari berbagai masalah yang berhubungan dengan kehidupan sosial atau kosmologis atau yang lainnya. Setelah itu, ia kembali kepada naskah Alquran, tetapi tidak dalam posisi sebagai pendengar pasif dan seorang pencatat karena ia menempatkan sebuah topik atau masalah yang ada dan sejumlah pandangan dan gagasan manusia di hadapan Alquran. Dengan begitu, sang mufassir memulai sebuah dialog dengan Alquran di mana ia bertanya dan Alquran memberikan jawabannya. Tujuannya adalah menemukan pandangan Alquran mengenai subyek kajian yang berhubungan dengan kenyataan hidup dan pengalaman manusia.

Dengan demikian, hasil dari tafsir tematik berada dalam rantai yang konstan dengan pengalaman manusia karena ia memotret sudut-sudut pandang sebagaimana ia menetapkan suatu pendekatan untuk menemukan pandangan Islam mengenai isu apapun dalam kehidupan. Pada konteks ini, Alquran menyatu dengan kenyataan dan kehidupan manusia karena tafsir tematik mulai dari kenyataan dan berakhir dengan Alquran. Pernyataan Ali bin Abi Talib bahwa “Jadikanlah Alquran berbicara kepadamu” merupakan ungkapan yang paling indah untuk menggambarkan fungsi tafsir tematik sebagai sebuah dialog dengan Alquran dengan menghadapkan subyek tertentu kepada al- Qur’an dan biarkan Alquran berbicara menjawab masalah masalah tersebut.

Kedua, metode tematik selangkah lebih maju daripada metode analitik. Metode analitik membatasi dirinya pada pengungkapan arti-arti ayat-ayat Alquran yang terperinci, sementara metode tematik menuju pada sesuatu yang lebih dari itu dan mempunyai lingkup pencarian yang lebih luas. Metode tematik berusaha mengungkapkan hubungan antar ayat-ayat yang berbeda –yang sebenarnya perinciaannya telah disediakan oleh metode analitik– untuk sampai pada sebuah susunan pandangan Alquran yang utuh. Dengan demikian, tafsir tematik bertujuan untuk menetapkan pandangan yang mewakili sikap al-Qu’an tentang sebuah isu tertentu dari berbagai masalah ideologis, sosial, kosmologis dan sebagainya (al-Shadr 1990:32).

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa metode tematik lebih baik daripada metode analitik karena ia lebih bisa memahami Alquran secara integral dan berhasil menetapkan perspektif Alquran tentang berbagai problematika kehidupan. Namun, sebagaimana diungkapkan al-Shadr (1990:36), ini tidak berarti bahwa tafsir analitik tidak diperlukan lagi. Bahwa sebuah metode itu baik tidaklah selalu menghapus metode sebelumnya. Masalahnya adalah bukanlah penggantian atau penghapusan suatu metode oleh metode lainnya melainkan penyatuan kedua metode tersebut. Maksudnya adalah menambahkan metode tematik kepada metode analitik yang telah menyediakan bahan-bahan dasar bagi metode tematik. Metode tematik hanyalah selangkah lebih maju daripada metode analitik.

Nilai Strategis Tafsir Tematik bagi Muslim Kontemporer

Selain kelebihan di atas, metode tafsir tematik memiliki nilai strategis bagi kehidupan Muslim modern. Tujuan yang hendak dicapai metode tematik adalah menetapkan pandangan-pandangan atau konsepsi-konsepsi Alquran di mana dengannya realitas kehidupan dan pengalaman empirik dan intelektual masyarakat memperoleh sinaran Alquran. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa pandangan-pandangan dan konsepsi-konsepsi Alquran ini perlu diungkapkan kembali? Apakah dahulu Nabi Muhammad (s.a.w) tidak mengajarkan kepada umatnya pada masa awal Islam? Kiranya, ada dua faktor yang mendorong perlunya pengungkapan kembali pandangan-dunia Alquran melalui metode tematik: Faktor pertama berkaitan dengan persoalan internal masyarakat Muslim dalam memahami pandangan-pandangan dan konsepsi-konsepsi Alquran; dan factor kedua berhubungan dengan zaman yang terus berkembang dan interaksi komunitas Islam dengan komunitas lain di luar Islam yang bolehlah kita sebut faktor eksternal (al-Shadr 1990:35).

Faktor Internal

Terdapat jarak kognitif antara generasi awal Islam dengan umat Muslim kontemporer dalam memahami pandangan-pandangan Alquran. Nabi Muhammad (s.a.w) memperkenalkan pandangan-pandangan dan konsepsi Alquran dengan jalan menerapkannya dalam suasana Qur’ani yang diciptakan dalam masyarakat Islam awal. Setiap Muslim yang hidup dalam suasana tersebut memahami pandangan-pandangan Alquran ini walaupun mungkin hanya ikhtisarnya dan secara tak sadar karena suasana pendidikan, spiritual, intelektual dan sosial yang dibangun oleh Nabi Muhammad mampu memberikan sebuah visi yang jelas untuk menilai situasi-situasi dan insiden-insiden yang berbeda-beda. Para sahabat yang hidup bersama-sama dengan Nabi Muhammad, walaupaun mereka tidak belajar secara formal, betul-betul memahami pandangan-pandangan Alquran dengan utuh. Pandangan-pandangan itu terpatri di dalam benak mereka dan tersirat dalam pemikiran mereka. Jadi, kondisi sosial, spiritual dan dan intelektual masa itu, di mana mereka hidup, begitu sangat kondusif untuk memahami pandangan-panadangan Alquran walaupum hanya garis besarnya saja dan cukup untuk menciptakan kriteria yang memadai untuk suatu penilaian.

Pada masyarakat Islam kontemporer, suasana profetis seperti itu sudah tidak didapati lagi. Perubahan zaman dan jauhnya dari “sekolah Nabi” (school of Prophet) membuat pemahaman atas pandangan-pandangan Alquran mengalami reduksi, bahkan distorsi. Dengan demikian bisa dikatakan ketika suasana profetis tidak ada lagi pada masa kini, mengkaji dan menetapkan pandangan-pandangan dan konsepsi-konsepsi Alquran menjadi suatu kebutuhan mendasar. Pada konteks inilah metode tematik yang menginginkan terciptanya pandangan-pandangan Alquran memperoleh signifikansinya.

Faktor Eksternal

Kebutuhan untuk merumuskan pandangan-pandangan Alquran semakin medesak dilakukan ketika dunia sekarang telah berubah menjadi “desa global” di mana interaksi antarmasyarakat dan antarperadaban semakin intens dan pengalaman serta intelektual manusia semakin kompleks. Pada situasi seperti ini, seorang Muslim mendapatkan dirinya di hadapan berbagai macam gagasan dan problematika kehidupan yang beragam. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi dalam situasi seperti ini: pertama, menutup diri dan melakukan tindakan reaktif dengan cara melakukan countertrend demi menjaga ‘kemurnian’ agamanya; dan kedua, membuka diri dengan penuh rasa percaya diri menjawab tantangan dan problematika dunia global. Bila yang pertama yang dipilih, maka yang terjadi adalah Islam menjadi agama eksklusif dan kehilangan energi untuk menjawab pesoalan kemasyarakatan. Tentu saja hal ini tidak diharapkan oleh setiap Muslim dan bertentangan dengan pengakuan Alquran sebagai rahmat bagi alam semesta.

Jika pilihan kedua yang diambil, yakni membuka diri dengan penuh rasa percaya diri menjawab tantangan dan problematika dunia global, maka masyarakat Muslim harus mempunyai perangkat yang bisa mewakili pandangan Islam yang utuh; sebuah pandangan yang bersumber pada Alquran yang mampu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan dunia global. Pada konteks ini, metode tematik menegaskan kembali nilai strategis dan signifikansinya. Dengan penafsiran metode tematik, Alquran menyatu dengan kenyataan hidup dan membumi dalam problematika sosial. Alquran yang mendaku sebagai petunjuk bagi manusia tidak sekedar menjadi doktrin yang lepas dari kehidupan, melainkan benar-benar menunjukkan petunjuk praktisnya yang ril bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya.

Kesimpulan Sebagai kesimpulan, dapatlah dikatakan bahwa tafsir tematik merupakan metode tafsir alternatif yang penting untuk dikembangkan oleh ilmuwan dan ulama Islam dalam upaya menjadikan Alquran sebagai hudan (petunjuk hidup) bagi Muslim modern dengan segala tantangan dan problematikanya. Urgensi metode tafsir ini terletak pada kemampuannya mengungkapkan bagi Muslim modern pandangan-pandangan Alquran yang integral bagi persoalan-persoalan dan realitas kehidupan modern. Hal ini disebabkan oleh nilai lebih tafsir tematik yang mampu menjadikan mufassir sebagai agen aktif ketika berhadapan dengan realitas dan pengalaman masyarakat modern sehingga menjadikan Alquran menyatu dan menyapa kehidupan nyata setiap Muslim. Selain itu, tafsir tematik dianggap memiliki nilai strategis sebagai sebuah pendekatan tafsir yang mampu menghadirkan kembali pandangan-dunia Alquran bagi Muslim kontemporer yang sekitar 15 abad jauhnya dari Nabi Muhammad dan sekolah kenabiannya.

Read Full Article


Beberapa hari yang lalu beranda Facebook penuh dengan share­-an tentang BFF. Katanya, ketika pengguna mengetik kata BFF dan tulisannya menjadi warna hijau maka akun kita mendapatkan pengamanan.

Tidak hanya sampai di situ, konten informasi itu juga ditambahkan dengan memuat foto CEO Facebook bertuliskan “Mark Zuckerberg, CEO Facebook, menemukan kata BFF, untuk memastikan akun anda aman di Facebook. Ketik BFF di komentar, jika terlihat hijau, akun anda dilindungi. Jika tidak muncul  warna hijau, ubah kata sandi anda segera karena mungkin diretas oleh seseorang”

Foto dan tulisan yang dipadukan dengan jurus cocoklagi itu ternyata banyak menarik perhatian netizen sehingga banyak yang membagikannya dengan  caption beragam,  salah satunya, ada yang dengan percaya diri secara religius menyebut mari berbagi manfaat dengan membagi ini.

Pertanyaannya, tahukah mereka bahwa informasi itu hoax? Teks BFF itu adalah hanya sebuah fitur berwarna atau dalam istilah Facebook yaitu  Text Delight. Dengan kata lain di Facebook memang ada tulisan tertentu yang jika diketik menghasilkan efek tertentu.

Salah satunya adalah kata BFF singkatan dari best friend forever itu yang jika diketik akan memunculkan tulisan BFF-nya berwarna hijau. Jadi, ini tidak ada hubungan sama sekali dengan aman atau tidaknya akun kita.

Namun nampaknya hoax itu tidak disadari sebagian netizen hingga banyak yang  menyebarkannya. Ini seperti lingkaran marmut merah jambu yang tiada akhir. Korban yang terperdaya membagikannya, dan share-an itu mendapatkan korban lagi, yang kemudian akan membagikannya lagi. Dan seterusnya sehingga beranda penuh dengan aktifitas itu.

Ini tentu saja menggelikan, tulis saya di dinding Facebook menanggapi hal ini. Karena sebenarnya tidak sulit untuk mengetahui bahwa konten informasi itu hoax. Dan mungkin sebagian dari netizen ini juga tahu bahwa itu hoax. Lalu mengapa tetap disebarkan juga?

Alaaah ini kan buat ramai-ramai saja. Memang benar kok, jika ditulis warnanya berubah hijau, kami memang suka mencoba fitur-fitur facebook. Jangan sembarangan tuding orang menyebar hoax deh.

Begitu reaksi mereka di kolom komentar saya. Saya menghela nafas seketika. Mungkin hal ini yang membuat sebagian netizen di negara kita suka sekali menelurkan hoax.

Pertama, sebagian dari kita barangkali tidak sadar atau bahkan tidak tahu sama sekali bahwa kita sedang menyebar hoax.

Jadi begini ya. Ada perbedaan mendasar antara yang hanya sekedar informasi, dan pada konteks apa informasi itu disebarkan.Informasi yang benar bisa menjadi kebohongan  jika disebarkan bukan pada porsi dan fungsinya.

Nah, bahwa di Facebook ada fitur yang me

nyediakan jika mengetik tulisan BFF akan menghasilkan tulisan hijau itu adalah informasi yang benar. Dan itu sah-sah saja dilakukan bahkan disebarkan. Namun pada konteks itu adalah hanya sekedar fitur Facebook.

Dia akan menjadi masalah jika disebarkan dengan narasi bahwa dengan mengetik itu akan membuat akun kita mendapatkan pengamanan. Karena di Facebook cara mendapatkan pengamanan bukan melalui cara itu. Apalagi dicocok-cocokkan dengan foto CEO Facebook bahkan ada foto Donald Trump, supaya banyak yang percaya dengan narasi ini.

Ini tentu saja akan melanggengkan budaya memelihara aktivitas produksi dan konsumsi  hoax. Ini mungkin hanya berefek ringan. Namun coba bayangkan jika aktivitas ini dianggap hal-hal yang  biasa saja. Maka ke depannya kita akan sulit menanggulangi hoax.

Atau yang menjadi hoax adalah isu yang berbahaya, misal, pada minggu sebelumnya juga beredar konten tentang telur palsu yang dikaitkan dengan narasi bahwa itu adalah cara orang asing merusak bangsa kita. Atau ada konten kebangkitan PKI hanya dengan bermodal foto-foto Palu Arit dan berbagai foto dengan jurus cocoklogi. Tentu saja konten itu hoax. Kita harus melawan aktivitas-aktivitas yang menyebarkan hal seperti ini.

Hal berikutnya yang menjadi alasan mengapa sebagian  netizen kita gemar menyebarkan hoax bisa dilihat dari sisi psikologis mereka dalam bermedia.Muhammad Rifki Kurniawan dalam tulisannya (2017) mengutip sebuah penelitian di Amerika yang diketuai oleh Diego Fregolante menjelaskan bagaimana psikologi manusia yang gemar sekali memiralkan informasi di media sosial.

Bahwa laju informasi dan otak manusia yang lebih suka menanggapi media sosial dengan emosional daripada rasional adalah penyebab netizen suka sekali menyebarkan informasi dan membuat viral di media sosial.

Kaitannya dengan netizen Indonesia adalah secara emosional (salah satunya berkaitan dengan pemenuhan rasa senang) ada semacam krisis eksistensi pada netizen kita. Selau ada hasrat untuk membagikan sesuatu agar terkesan eksis di media sosial.

Semacam over butuh pengakuan, sehingga membuat mereka menjadi hanya pengikut tren, ada yang lagi ramai, maka mereka harus ikut membagikan. Bahkan akan bangga menjadi orang yang pertama membagikan informasi, hingga kadangkala abai memikirkan kualitas informasi itu, hoax atau bukan.

Selain itu, dalam budaya literasi kita terjadi lompatan yang terlalu cepat. Dalam artian, sebenarnya kita belum khatam dan mapan dalam literasi tradisional lalu langsung melompat ke budaya komunikasi digital.

Dalam penelitian  Central Connecticut State University US tahun 2016, dari 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dalam hal kegemaran membaca. Ini memungkinkan bahwa sebenarnya sebagian masyarakat kita belum terbiasa mendapatkan informasi dengan membaca. Tidak terbiasa Memahami makna teks dengan baik bahkan  kritis.

Lalu tiba-tiba saja didamparkan pada kegiatan bermedia sosial yang dikatan oleh Morissan dalam buku Teori Komunikasi Massa (2014)  cara berkomunikasi dan pesannya adalah berbasis pada teks. Berbeda dengan komunikasi interpersonal dan berujar yang basis pesannya pada pemeran komunikasinya. 

Atau dalam analogi secara guyon kita bisa mengatakan, anak-anak yang ada pada zaman Asterix & Obelix tiba-tiba saja diteleportasikan pada zaman kanak-kanak pada kartun BEN 10. Bisa jadi sinar laser untuk menembak musuh dipakai untuk penerang pada saat mati lampu oleh mereka. Akhirnya, memang fenomena hoax memberikan tantangan dan tugas yang tidak pernah usai pada kita. Harus ada selalu pembaruan-pembaruan usaha untuk melawan ini. Kita bisa bekerja sama memaksimalkan potensi yang ada. Dengan memberikan pemahaman, counter informasi, kegiatan literasi, bahkan peran dan peraturan pemerintah.

Atau dalam analogi secara guyon kita bisa mengatakan, anak-anak yang ada pada zaman Asterix & Obelix tiba-tiba saja diteleportasikan pada zaman kanak-kanak pada kartun BEN 10. Bisa jadi sinar laser untuk menembak musuh dipakai untuk penerang pada saat mati lampu oleh mereka. Akhirnya, memang fenomena hoax memberikan tantangan dan tugas yang tidak pernah usai pada kita. Harus ada selalu pembaruan-pembaruan usaha untuk melawan ini. Kita bisa bekerja sama memaksimalkan potensi yang ada. Dengan memberikan pemahaman, counter informasi, kegiatan literasi, bahkan peran dan peraturan pemerintah.

Oleh: Arifin

Read Full Article

Pancasila adalah Ideologi dasar bagi bangsa Indonesia. Pancasila merupakan pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indoseia dengan tujuan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sebuah Negara akan kokoh apabila bangsa Indonesia masih mennganggap pancasila sebagai Dasar Ideologi, namun sebaliknya apabila bangsa Indonesia tidak menganggap lagi Pancasila sebagai Dasar Negara maka tunggulah saatnya sebuah Negara ini akan roboh, dengan seiringnya perkembangan zaman di era Globalisasi ini membawa dampak yang cendrung negatif bagi bangsa Indonesia.

Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 mengemukakan bahwa Republik Indonesia yang akan diproklamasikan memerlukan Dasar Negara yang kokoh dan kemudian mendapatkan persetujuan dari Pendiri Negara untuk menjadikan usulnya yang diberi nama Pancasia sebagai Dasar Negara yang membedakan dengan Negara lain.

Globalisasi diartikan sebagai proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakat dunia yang ditandai oleh kesengjangan tingkat kehidupan antara masyrakat industri dan masyrakat dunia ketiga (Antony Giddens: 1989). Pada saat ini arus Globalisasi tidak bisa dibendung lagi dengan perkembangan zaman yang terus maju disertai teknologi begitu canggih, realitas globalisasi tidak mungkin dihindari lagi karena globalisasi membawa pengaruh positif dan negatif,. fungsi kita bukanlah menolak globalisasi, tetapi bagaimana menyikapi agar tidak terbawa oleh arus Globalisai yang mampu mengambil dampak positif dan menjauhkan dampak negatif.

Era Globalisai membuat bangsa Indonesia banyak terjurus kepada modernisasi kebaratan-baratan dan melupakan adat ketimuran yang dimiliki bangsa Indonesia yaitu adat kesopan. Sebagai contoh masyrakat Indonesia khususnya generasi muda saat ini mengikuti adat kebarat-baratan seperti seks bebas, narkoba dan kawin diluar nikah dan lain sebagainya. Dalam hal inilah Pancasila sebagai Ideologi bangsa Indonesia, untuk ditanamkan kembali kepada Masyarakat khsususnya generasi muda selalu mengingat kembali isi butir-butir Pancasila karena generasi muda lah yang akan menuruskan bangsa Indonesia dan mengembalikan kembali bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tidak megikuti adat kebarat-baratan.

Bertepatan hari jadi Pancasila 21 Juni 2018 sebagai generasi penerus bangsa tidak hanya memperingati hari lahirnya saja, tetapi sudah sepantasnya generasi penurus bangsa untuk menjadikan butir-butir Pancasila pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Khairan

Read Full Article

Al-Mumtaz Palangka Raya- Qomus merupakan Komunitas sekaligus wadah bagi Mahasiswa IAIN Palangka Raya untuk mengkaji dan Belajar bersama tentang kajian keislaman. Qomus berisikan mahasiswa-mahasiswa jurusan Ilmu Quran dan Tafsir dan Ekonomi Islam

Umumnya kegiatan Qomus ialah diskusi dengan mengkaji berbagai ilmu dan pengetahun dari kitab-kitab Islam, tidak hanya itu mereka juga mulai saling memberikan motivasi-motivasi islami. Seperti ungkap salah satu anggota komunitas M. Irfan Wahid Kami tidak hanya mengkaji tentang fiqh melalui berbagai sudut pandang, namun sekarang kami mulai menambahkan dengan motivasi-motivasi Islam sehingga tidak monoton dengan kitab saja.” Ungkapnya.

Kegiatan Qomus merupakan kegiatan yang membuat anggotanya dapat terbiasa mengkaji suatu ilmu pengetahuan, “Kedepannya, teman-teman ketika mereka sudah mulai proses penulisan tugas akhir dapat terbantu dengan pegalaman mereka selama mengkaji bersama dalam qomus ini, dan beberapa teman-teman yang aktif ikut dikegiatan ini dapat membawa pesan-pesan moderasi kepada teman-teman Mahasiswa yang memiliki dahaga untuk berhijrah,” tambahnya

Rep : syah

Read Full Article

  • Penulis: Tere Liye
  • Penerbit: Gramedia
  • Tahun Terbit: 2016, Cetakan Pertama.
  • Tebal Novel: 320 Halaman
  • Ukuran Novel: 30  Cm

Sesuai dengan judul novelnya, “Hujan”. Sesuai dengan judul novel ini, bahwa hujan merupakan jati diri dalam diri seseorang. Dimana pastinya pembaca juga dapat merasakan apa yang tertuang dalam novel. Penulis dapat menggambarkan latar dengan baik sehingga dapat dipahami alur cerita yang membuat pembaca seolah berada dalam novel, menyaksikan pertunjukan yang disuguhkan dengan indah.

Secara keseluruhan novel ini selalu bisa memukau dan menimbulkan candu bagi setiap penggemarnya, salah satu novelnya berjudul Hujan. Novel ini menceritakan tentang persahabatan, tentang cinta, tentang perpisahan, tentang melupakan dan tentang hujan dimana penulis bisa memadukan dan mengonsep sedemikian rupa sehingga menghasilkan novel yang menarik untuk dibaca.  Kisah inspiratif yang dapat memotivasi pembaca untuk mengikuti sifat dan sikap tokoh yang tetap tegar dalam menghadapi kehidupan dan menjadi bermanfaat bagi sekitarnya.

  Novel ini juga mengajarkan kepada kita  bahwa apabila siap untuk jatuh cinta, maka ia juga harus siap untuk menerima apapun yang akan terjadi nantinya. Baik itu rasa sakit di hatinya, rasa kecewa tentang perasaannya, marah yang tak jelas arah, benci yang tak tertuju. Namun jika benar siap dengan cinta, maka tidak masalah  baginya  untuk melewati segala rintangan menuju cinta sejati yang sesungguhnya.

  Dalam buku hujan ini, Tere Liye mengatakan “Bukan melupakan yang menjadi masalahnya,  tapi menerima.  Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah melupakan

Read Full Article