TIDAK ADA PERJUANGAN YANG SIA-SIA: MENILIK AKSI MAHASISWA (SEPTEMBER 2019)

Oleh: Santia Widya, Mahasiswa Ilmu Qu’an Tafsir IAIN Palangka Raya.

Sebuah tulisan yang telah dipublikasikan ke akun Facebook pribadinya pada tanggal 1 Oktober 2019.

Tulisan ini terinspirasi dari pernyataan Sherly Annavita (Influencer Milenial) pada saat acara E Talk Show tvOne bahwa, &Anak muda itu ada dua alasan kita semua bergerak menjadi bagian dari perubahan, satu adalah mereka yg sakit hatinya dan yg kedua adalah mereka yg terbuka pikirannya. Maka Sherly pikir sudah saatnya generasi muda mengambil bagian mulai aktif, peka tapi bukan karena sakit hatinya tapi karena terbuka pikirannya.

Saya sebelum menjadi Mahasiswa adalah sosok yg kontra terhadap aksi demonstrasi. Utk apa unjuk rasa? utk apa teriak-teriak di bahu jalan? dan dgn deretan pertanyaan sinis lainnya.

Hingga ketika saya berstatus ‘Mahasiswa’ ada banyak hal yg memperluas mindset saya tntg aksi demonstrasi.

Bung Hatta menyatakan dari dulu bahwa,&Mahasiswa itu akal dan hati masyarakat.& Pernyataan ini saya kutip dari seorang Aktivis HAM Pak Haris Azhar pada acara ILC tvOne. Beliau salah satu tokoh dewasa yg merangkul dan mengarahkan resahnya sikap Mahasiswa terhadap keputusan Pemerintah dengan pembelaan,&Mahasiswa tidak main kejar-kejaran, Mahasiswa itu mau menyampaikan aspirasi.& Beliau begitu mengapresiasi hal tersebut dan juga menyampaikan, “Jangan perkecil aksi Mahasiswa. Kita harusnya berterimakasih. Alarm Demokrasi hidup.”


Adapun 7 tuntutan dari aksi Mahasiswa saya kutip dari detiknews (26/09/2019) meliputi:

1. RKUHP

2. Revisi UU KPK

3. Isu Lingkungan

4. RUU Ketenagakerjaan

5. RUU Pertahanan

6. RUU PKS

7. Kriminalisasi Aktivis

Aksi yang dilakukan Mahasiswa menuai pro dan kontra di kalangan intelek, elit politik bahkan masyarakat pada umumnya. Hingga muncul isu-isu aksi ini ditunggangi oleh kepentingan oknum tertentu. Presma UI Manik Margamahendra menegaskan bahwa,&Mahasiswa sedang turun ke jalan, ribuan bahkan sampai puluhan ribu karena kita bersatu dgn masyarakat hari ini. Namun ada permasalahan yg kemudian disinggung terkait dgn asumsi liar yg beredar bahwa aksi kami ini ditunggangi, katanya. Iya, yg paling penting kami katakan bahwa iya benar aksi kami ditunggangi tapi ditunggangi oleh kepentingan rakyat. Mengapa? karena jelas bahwasanya disini kami tdk berbicara sama sekali tntg guling-menggulingkan atau menurunkan yg saya rasa itu adalah urusan elit politik, ya silakan urus saja tdk perlu bawa-bawa rakyat dlm pusaran elit politik.&

Kembali ke sudut netral lainnya meninjau pernyataan Pakar Hukum Tata Negara Pak Irmanputra Siddin yg mengkritisi pemangku kuasa: jgn sampai kekuasaan tdk baca yg ia teken, beliau juga menganalogikan sistem pemerintahan dgn percintaan bahkan perselingkuhan, &Kenyataannya demokrasi tdk seindah yg kita bangun. Fenomena yg kemudian muncul adalah di belahan dunia saya nggak tahu terjadi di Indonesia atau tdk. Parlemen ini yg diharapkan hadir guna mengontrol kekuasaan berselingkuh dia dgn kekuasaan itu, lalu kemudian rakyat mengatakan ‘dimana? Siapa yg menyuarakan suara kami?’ Parlemennya pun merapat pada kekuasaan. Saya tdk tahu ini mirip atau tdk ketika di negara kita satu-satunya sumber utama Parlemen adalah Partai Politik, yg kita sdh berikan kursi kepada Partai Politik duduk di Parlemen sana. Tapi ternyata Partai Politik pun masih menginginkan kursi di Kabinet Pemerintahan. Saya nggak tahu apakah koalisi ini mirip-mirip dgn selingkuh yg tadi saya ktkn seperti itu. Dlm kondisi seperti ini maka kemudian kita putus asa kita sdh kasih kekebalan, wah ini skrg kita kritik pemerintah bahaya mulailah kekuasaan baru lagi ada kekuasaan informal muncul, kekuasaan Pers yg org ktkn ini kekuasaan keempat. Inilah yg kemudian menjembatani kita mengontrol kekuasaan itu, inilah kemudian yg kita perhadap-hadapkan dia dgn kekuasaan itu membantu umat manusia guna mengontrol kekuasaan yg tadinya kita sdh mulai kehilangan asa kepada Parlemen, muncullah kekuasaan Pers disini. Dlm perjalanannya lagi ternyata tak seindah yg kita bayangkan juga. Pers pun sdh mulai kita curigai jangan-jangan ini jangan-jangan ikutan berselingkuh, juga ada cinta segitiga antara Parlemen, Presiden dan Pers. Makanya saya ingatkan yg namanya kekuasaan itu dia tidak akan pernah setia sama teman selingkuhnya dia hanya setia kemungkinan kapitalisme dibelakangnya. Kekuasaan itu yg sulit kita pisahkan adalah dia bisa berpisah Parlemen bisa berpisah sama Pers tapi sulit kita pisahkan dgn cinta sejatinya yg namanya kapitalisme. Itu yg berbahaya.” Beliau menegaskan bahwa, “yg paling penting adalah kita juga tidak mau utk tidak menghargai kerja Parlemen dan kerja Presiden, saya kira RUU KHUP ini adalah jalan panjang sejarah kita membangun narasi nasionalisme kita akan hukum yg berdaulat di negara kita. Sehingga memang saya juga bisa pahami tdk mungkin ada UU yg sempurna yg kita hasilkan, ada UU yg kemudian diputuskan tanpa lepas dari perdebatan.”

Ada banyak cerita ketika Mahasiswa menunjukkan aksi demonstrasinya yg pada akhirnya diperdebatkan oleh netizen, mulai dari aksi Demonstrasi yg memunculkan cinta lokasi antar Mahasiswa dgn cerita-cerita dramatis yg saya rasa itu hanyalah bonus saja, yg membuat saya miris adalah beredarnya aksi kekerasan dari oknum aparat hukum yg hingga menelan korban jiwa yg tdk sedikit, seolah sejarah hitam tntg perjuangan sampai titik darah penghabisan kembali terulang saat aksi demonstrasi yg juga dilakukan Mahasiswa kala itu ketika Orde Baru tahun 1998. Saya tdk mengambinghitamkan pihak manapun. Ketika suatu negara kembali pada azas demokrasinya yg katanya menjaga dan melindungi hak bebas dalam berpendapat saya rasa hal ini tidak akan sampai menelan korban jiwa, saya mengutip dari Kompasiana (30/01/2018) dalam UUD 45 Pasal 28E ayat 3 yaitu, &Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.& Juga dlm UU No.39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Pasal 3 ayat 2 berbunyi, &Setiap orang berhak untuk mempunyai, mengeluarkan dan menyebarluaskan pendapat sesuai hati nuraninya, secara lisan dan atau tulisan melalu media cetak maupun media elektronik dengan memperhatikan nilai nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum, dan keutuhan bangsa.”

Ada apa dengan Indonesia? Ada apa dgn Ibu Pertiwi? Apakah sedang menangis, meratapi atau bahkan terluka? Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Saya selaku Mahasiswa yg juga bagian dari rakyat Indonesia mengkritisi tntg aksi demonstrasi yg dilakukan Mahasiwa bahwa hal tersebut adalah wujud perjuangan utk upaya keberlangsungan Indonesia agar lulus dari ujian reformasi dgn komunikasi yg baik antar rakyat dan pemerintah. Ada analogi dari Sherly Annavita bahwa Pemerintah seperti Kura-kura, ”Utk membuat kura-kura jalan itu nggak bisa hanya dgn ditepuk-tepuk dari luar aja dia harus ditusuk kedalam bahkan lebih bagus dia dari dlm. Artinya harus dari dlm utk membuat kakinya keluar, kepalanya keluar dan menggerakkan kura-kura itu. Artinya utk memperbaiki sistem pemerintahan ya dari dlm. Tapi lingkungan sistem dari luar ini juga mendukung bagaimana jalannya pemerintahan. Toh salah satu indikator adanya negara adalah masyarakatnya dan negara kita: negara demokrasi yg dari oleh dan utk rakyat.” Kemudian ada sosok Hillary Brigitta Lasut seorang generasi milenial yg menjadi Anggota DPR RI Terpilih berpendapat, “Sebagai seorang anak muda yg harus kita kembangkan dan lihat adalah demokrasi itu jelas, perlu dan sesuai dgn kehendak rakyat. Tapi ada suatu hal yg harus diseimbangkan dlm idealisme anak muda yaitu pertama yg seperti Pak Habibie blg,’kecerdasan itu baik tapi akan berbahaya tanpa cinta.’ Jadi, kita harus menanamkan juga nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah air, mengetahui jelas bahwa Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu) bkn hanya bicara soal SARA tapi juga soal berbeda pendapat, kita bisa berbeda pendapat, kita bisa berbeda cara pemikiran, tapi kita harus tetap satu dlm perjuangan.”

Saya melihat ada dua sisi generasi milenial yg berbeda pandangan tntg aksi demonstrasi, Sherly merasa hal tersebut perlu diapresiasi karena Mahasiwa bergerak dengan kedinamisannya sdgkan Hillary lebih meninjau pada aksi utk berada pada sistem tanpa harus berkoar-koar merusak aset negara. Sygnya tulisan saya tidak memiliki bnyk argumen mengapa terjadi tindak kekerasan antar pelaku aksi dan oknum aparat hukum yg menimbulkan beberapa korban jiwa. Tulisan ini dgn segala keterbatasannya mengajak pembaca utk membuka mindset lebih luas bahwa aksi demonstrasi adalah upaya Mahasiswa selaku harapan bangsa yg menjadi estafet pemerintahan utk memperbaiki sistem yg dirasa perlu dikomunikasikan pada publik dgn 7 tuntutan tadi utk memperjuangkan suara rakyat. Jika Sherly memilih memperbaiki sistem dgn berada diluar sistem (sebagai aktivis yg peduli pada dunia pendidikan) berbeda dgn Hillary memilih memperbaiki sistem dgn berada didalam sistem (sebagai bagian dari pemerintahan yakni DPR RI). Setiap dari kita berhak memilih dan terlibat aksi nyata dlm memperbaiki sistem pemerintahan di Indonesia. Sherly menegaskan, “Apa yg diketuk skrg berimbas pada keberlangsungan Indonesia kedepannya dgn peralihan posisi dari pemuda saat ini yg peka utk memperbaiki sistem.” Kemudian Hillary menegaskan, “Ketika kita turun ke masyarakat sbg calon politisi hal pertama yg dilihat masyarakat adalah harapan: perubahan dan org yg akan memperjuangkan suaranya dan saya tdk ingin menjadi pemberi harapan palsu.”

Hari ini tepat 1 Oktober diperingati sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”.

Harapan saya selaku bangsa Indonesia,

“Lekas pulih, membaik dan panjang umur perjuangan.”

#HidupMahasiswa

#HidupMasyarakatIndonesia

mungkin yang anda cari

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *