Menengok kembali PBAK Institut 2019

Oleh Najib

Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam, IAIN Palangka Raya.

Source ig PBAK 2019

PBAK 2019 baru saja terlaksana dan telah melalui masa dari sekian linimasa kegiatan di IAIN Palangka Raya. PBAK tahun ini mengangkat tema yang begitu larik asik, & Peran Mahasiswa Muslim dalam Kontestasi Peradaban Industri yang Mengedepankan Karakter Bangsa. Sekilas, tema yang terpatri untuk PBAK kali ini adalah tema yang memang benar-benar pas dengan isu-isu yang saat ini mencuat. Ia, yang dalam pidato penutup sang ketua panitia, meng-highlight dua isu besar, isu internasional dan nasional. Isu internasional itu adalah Revolusi Industri 4.0, sedangkan isu nasionalnya adalah karakter bangsa yang (katanya) terancam punah.

Tapi, di antara gemerlap dan gemilangnya perayaan PBAK ini, ada yang sebenarnya belum terjawab dari semua ini. PBAK 2019 mengangkat isu industrial, yang tidak semua mahasiswa akan jadi pekerja —ya kecuali semua Mahasiswa kita memang berpikir akan kerja apa nanti— dan tetek bengek peradaban industri, mempatrikan kepada kita semua bahwa kehidupan kampus pada akhirnya adalah persiapan untuk dunia kerja juga. Para mahasiswa baru dipertemukan dengan realita paling sederhana, lulus kuliah akan kerja apa?

Gus Muhammad Al-Fayyadl, seorang pegiat Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dan alumnus jurusan filsafat kontemporer dari Université Paris 8, Prancis, berpendapat bahwa penanaman dan pengajaran untuk tunduk dan ikut arus wacana-wacana industrialisasi yang masih kapitalistik, Revolusi (Kapitalis) Industri 4.0, kepada mahasiswa di kampus, agar potensi perlawanan terhadap  kapitalisme dan pembelaan terhadap kepenting rakyat dan kaum proletar menjadi jinak.

Alih-alih, PBAK mestinya menjawab (dan mengangkat) isu mengenai Indonesia yang saat ini menginternasional dan memang harus dijawab dan pasti dihadapi mahasiswa muslim: polarisasi & politisasi Islam. Atau bagaimana semakin mencuatnya eksistensi kelompok kanan yang cenderung memanfaatkan politik identitas, dalam hal ini, sekali lagi, Islam. Hal-hal tersebut sangat tergambarkan dalam tulisan Eka Kurniawan, di media Internasional, The New York Times, yang terbit pada Februari 2019 lalu. Di paragraf akhirnya, Eka menuliskan secara gamblang .No matter who ends up being president, conservative Islamic groups, backed by radical groups, will win — have already won — the election, bagaimana kelompok Islamis yang telah melakukan polarisasi dan politisasi atas Islam dan identitas Islam, akan menang, siapapun Presidennya.

Atau Pep Pepinsky, Profesor Kajian Pemerintahan di Cornell University dan Nonresident Senior Fellow pada Foreign Policy Program di Brookings Institution, yang melakukan penelitian mengenai Pembelahan Agama dan Etnis dalam Pilpres 2019, menunjukkan politisasi identitas agama, dalam hal ini Islam. Nahasnya lagi, politisasi identitas Islam, atau singkatnya politik identitas, ini menjalari sampai ke daerah-daerah dengan penganut Kristen, NTT. Politik identitas dan polarisasi di sana mencuat sejak pemilihan Gubernur Jakarta. &Polarization has deepened since Jakarta’s gubernatorial election two years ago, tulis Eka. Jika polarisasi dan politasi Islam dan identitas Islam ini terus berjalan dan semakin menjalar ke kelompok masyakarat lain, bukan tidak mungkin, eksistensi Indonesia berada di ambang perpecahan. Dan sebagai mahasiswa muslim di kampus Islam yang bersentuhan dengan hal-hal berkaitan inilah, mestinya mahasiswa dipersiapkan berurusan. Dunia Internasional sedang memandangi kita dan apa yang terjadi pada eleksi kita mengenai polarisasi dan politik identitas yang mencuat ini, dan kita, sebagai mahasiswa muslim, di kampus Islam, justru memperbincangkan Revolusi Industri 4.0 ?

Kemudian, isu nasional ialah karakter bangsa yang dicap akan punah, tergambar melalui logo orang utan, sebagai primata yang dilindungi. Untuk hal satu ini, saya bingung. Apa sebenarnya karakter kita, sebagai sebuah bangsa, yang hampir punah itu? Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa artifisial, yang baru muncul belakangan, terdiri atas berbagai macam bangsa. Bangsa-bangsa itu kemudian kita sederhanakan kata-katanya menjadi suku.

Ben Anderson, seorang Indonesianis, mengatakan bahwa sebuah bangsa itu adalah &imagined communities, bangsa terbayang. Ia adalah sekumpulan manusia yang disatukan dalam bayangan ke depan. Bukan ke belakang! Karakter bangsa tidak bisa punah, karena karakter itu kita bentuk, bukan dibentuk oleh orang dulu. Karakter bangsa itu berubah, bukan punah. Mengira bahwa karakter bangsa akan punah adalah sebuah kekeliruan berpikir yang banyak dipengaruhi oleh propaganda militer.

Kita tentu ingat dengan kejadian upaya kudeta yang dilakukan oleh pihak militer Turki kepada Erdogan pada 2016 lalu. Kudeta tersebut terjadi karena Erdogan melakukan upaya-upaya yang dianggap kelompok militer sebagai penghilangan karakter utama Turki, sekularisme. Militer dengan segala tindak tanduknya yang militeristik pula, merasa sebagai penjaga daripada karakter bangsa melakukan kudeta kepada pemerintah Turki yang sedang bertransformasi menuju wajah yang lebih Islam.

Hal di atas hanya sebagai analogi, jika kemudian apa yang dinarasikan sebagai karakter bangsa tersebut adalah sesuatu yang diwariskan, maka saya katakan, bahwa bangsa Indonesia dan karakternya bukan warisan. Jika ia warisan maka akan ada sebuah kelompok yang merasa mewarisinya, ahli waris. Dan bila sudah membahas warisan, saudara pun jadi musuh. Perebutan siapa yang paling pantas itu acap kali dengan kekerasan hingga penghilangan nyawa saudara kita. Bangsa kita adalah bangsa yang menuju sebuah tujuan bersama menaungi setiap manusia yang bernaung di bawahnya, bukan oleh sekelompok golongan manusia yang merasa ahli waris menyebut dirinya pribumi sambil meneriaki manusia lainnya sebagai aseng, anti-pancasilais, kafir, cino, dan sebagainya.

Syahdan, begitulah semua ini. Dari hal-hal yang tidak terjawab itu, saya ingin menerangkan bahwa para mahasiswa mestinya dipersiapkan sebagai penemu dan pencipta, bukan orang yang bersiap di meja bangku pekerja, melihat sintaksis-sintaksis tua, mendapuk diri mereka begitu nasionalis sambil menindas manusia lain hanya karena perbedaan kacamata. Utama paling utama lagi sebagai mahasiswa di kampus Islam mesti siap berhadapan dengan permasalahan politisasi Islam dan identitas Islam. Sehingga kiranya Islam tidak hanya menjadi kuda-kudaan bagi kesempatan politik praktis.

Akhirul kalam, tulisan ini jelas sekali adalah tulisan yang masih bisa digali dan diperdebatkan lagi. Dan merupakan awal dari gejolak-gejolak intelektual untuk menyambut mahasiswa baru. Menarik sebuah garis bias yang menandakan tradisi mahasiswa FUAD sebagai mahasiswa yang berdiri sebagai oposisi daripada pemerintahan mahasiswa institut, seperti yang dilakukan oleh mahasiswa FUAD generasi sebelumnya. Tulisan ini saya haturkan sebagai ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru. Harapannya, ia dapat menjadi pemantik konflik horizontal antar intelektual mahasiswa lewat media mahasiswa.

mungkin yang anda cari

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *