NESTAPA

NESTAPA

Oleh: Arda Naridia Maharani

Saat itu, gerimis membasahi jalanan yang mulai sunyi

Jangkrik mulai mencaci mendung malam yang mulai menepi

Sorot cahaya sang rembulan remuk redam tertutup awan

Hanya rintikan hujan dan lambaian daun ilalang

Suara semilir angin sayup-sayup menjauh hilang…

Suara air mengalir menambah kecemasan hati

Luka hati yang menyeruak nan menyesakkan dada

Air mata mengucur bak larva gunung merapi

Dalam gelap gempita ia terus mencari

Bertanya pada sesiapa yang ia jumpai

Basarnas, tim relawan, bahkan pak polisi..

Dimana ibuku ?!

Dimana ayahku ?

Dimana saudaraku ?!

Dimana teman-temanku ?

Seraya menatap dengan mata berkaca-kaca

Berharap ada yang tahu dimana rimbanya..

Tak jauh diujung sana

Ditengah puing-puing petaka

Duduk termenung seraya mengorek reruntuhan

Dengan air mata berderaian

Luka gores masih menganga disiku tangan

Tak peduli seberapa pedih luka dibadan

Ia tetap termangu dalam diam, meratap penuh harapan

Detik itu, tak lagi didapati

Anak-anak dengan seragam merah putih

Berbaris rapi melaksanakan apel pagi

Penggembala yang merumput dipagi hari

Supir angkot yang menunggu penumpang

Ibu-ibu yang menunggu tuk3ang sayur jalanan

Bapak-bapak yang memikul cangkul dan menenteng bekal

Pun, suara adzan yang tak berkumandang…

Sekarang, mereka menahan sakit dan duka

Berjuang menemukan sanak saudara

Berharap semua masih bernyawa

Biarpun tak memiliki harta benda

Asalkan berkumpul dengan keluarga…

Jika tangan ini tak mampu mengulurkan asa

Jika raga ini tak dapat menjadi sandaran duka

Pun hanya sekedar air mata duka cita

Tapi, do’a ini terus menggema diangkasa

Untuk saudara di palu dan donggala…

*Sebuah karya yang berhasil masuk 100 besar puisi terbaik dari Event Hunter Indonesia.

mungkin yang anda cari

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *