Integrasi Jiwa Aktivis Dan Akademis Dalam Organisasi, Mungkinkah?

Dua hal yang pasti bertemu kalau kita membahas tentang dunia kampus adalah mahasiswa dan organisasi. Dua hal ini tidak bisa terpisahkan karena saling membutuhkan. Organisasi memerlukan mahasiswa agar  terus eksis dan hidup, pun juga mahasiswa membutuhkan organisasi untuk belajar tentang hidup dan aktualisasi eksistensi diri..

Secara sederhana organisasi  bisa diartikan tempat berkumpul para individu yang memiliki aktivitas, keberminatan,dan tujuan bersama. Diakari dengan kata organ, karena cara kerjanya mirip organ-organ yang ada di dalam tubuh manusia yaitu  saling terkait, bersinergi sesuai fungsi, dan membentuk sistem. Hal ini yang menyebabkan di organisasi punya bentuk hierarki kepemimpinan seperti ketua, petugas, dan anggota.

Dalam dunia kampus, organisasi dijalankan berfungsi sebagai miniatur untuk mengenal negara. Maka dari itu macam organisasinya berbentuk lembaga presiden mahasiswa dan senat serta turunan-turunanya ditambah beberapa UKK- dan UKKM yang mengakomodir keberminatan mahasiswa. Selain itu, ada juga organisasi ekstra kampus sebagai miniatur untuk mengenal suatu lembaga berisi ideologi dan nilai-nilai tertentu.

Dalam banyak sajian ragam organinasi itulah mahasiswa dihadapkan untuk memilih akan menerjunkan pilihan hidupnya ke mana. Yang dalam hal ini memilih untuk tidak berorganisasi pun adalah termasuk dalam pilihan itu sendiri.

Dalam perspektif psikologi secara ringan bisa kita katakan  pada kaitan alasan mahasiswa berorganisasi adalah karena motif. Motif inilah yang mendorong mahasiswa untuk berorganisasi. Dan tentu saja punya motif yang bermacam-macam.

Pertama, dorongan untuk berprestasi. Tidak bisa dipungkiri mengharapkan pelajaran di kelas saja sangatlah tidak cukup untuk memaksimalkan potensi yang dalam diri mahasiswa. Mahasiswa punya dahaga yang lebih besar untuk memaksimalkan potensi prestasi mereka. Maka ia tergerak untuk mengaktulisasikan itu pada organisasi.

Kedua, dorongan ingin mempunyai banyak teman. Ada beberapa mahasiswa yang terbiasa ramai dan selalu ingin berkenalan dengan orang-orang baru. Organisasi adalah tempat berkumpul yang tidak hanya terdiri mahasiswa satu jurusan. Hal ini yang menjadi tujuan  mahasiswa yang suka menambah jejaring dirinya.

Ketiga, poin ini menjelaskan bahkan secara psikologis organisasi bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa yang punya motif dan sifat ingin berkuasa. Dalam organisasi mempunyai hierarki kekuasaan, hal itulah yang diincar mahasiswa yang suka menantang dirinya untuk berjuang menjadi penguasa. Dalam bahasa halusnya ia ingin belajar memimpin banyak individu untuk suatu kemashlahatan.

Di samping banyakya motif mahasiswa memilih berorganisasi itu, ada satu isu  yang selalu menjadi pembahasan. Yaitu dualitas output mahasiswa di kampus antara yang berorganisasi dan yang tidak berorganisasi. yaitu jiwa akademis dan jiwa aktivis.

Tidak bisa dipungkiri, dalam kampus antara prestasi akademik dan prestasi organisasi semacam di-vis-a-viskan. Mahasiswa yang baik dalam akademis dianggap buta organisasi dan miskin gerakan sosial, sebaliknya mahasiswa yang aktif dalam organisasi dianggap punya nilai jeblok dan tuna-pengetahuan akademik. Dua hal ini semacam membentuk dua struktur sosial dalam dunia kampus.

Padahal secara ideal tidak seperti itu. Orang yang berorganisasi sebenarnya tidak harus diidentikkan dengan berbagai stereotip miskin akademik, apalagi jika akademik itu diartikan sebagai daya pikir rasional, runut, dan kritis.

Masalah ternyata di lapangan justru didapati fakta yang sebaliknya, itu karena permasalahan budaya saja. Orang yang berorganisasi terjebak pada stereotip itu, sehingga mengamini dan tersugestilah kebiasan dan sifat-sifat untuk malas dalam urusan akademik.

Akhirnya jadilah organisasi itu hanya tempat untuk berkumpul, kongkow-kongkow sambil menunggu dana operasional cair untuk kemudian melaksanakan kegiatan-kegiatan seremonial, hiburan, dan pergantian pengurus.

Ini hanya masalah aktivitas dan cara memaknai sebuah organisasi saja. Apakah dipakai sebaik-baiknya atau hanya jadi bahan pelarian untuk menutupi kemalasan belajar saja. Yang akhirnya didapatilah out-put mahasiswa yang mengaku dirinya aktivis jempolan organisasi tapi gagap melihat suatu fenomena sosial dengan logis dan berpemikiran jernih.

Organisasi juga perlu kerja-kerja akademik semacam cara berpikir dasar, pengetahuan, daya kritis yang benar sebagai panduan untuk bergerak ke arah yang benar. Karena jika berpikirnya benar maka tentu gerakannya berada pada rel yang seharusnya. Jadi mahasiswa yang mengaku aktivis tidak terjebak pada aktivitas yang melelahkan.

Hal yang diperlukan setiap organisasi adalah bagaimana menggabungkan jiwa akademis dan aktivis mahasiswa dalam berorganisasi. Agar ia membentuk sinergi yang melahirkan mahasiswa paripurna. Hal itu bisa berupa program kerja yang dibuat untuk menunjang tidak hanya daya geraknya saja, tapi juga daya pikir yang benar, pun juga sebaliknya.

Hal ini bisa dimulai dari menanamkan budaya membaca, berdiskusi, dan menulis di tiap organisasi. Jadi mulailah mengganti aktivitas santai organisasi yang hanya berkumpul dan ngobrol ­­ngalor-ngidul menjadi pembicaraan yang berisi dan terkonsep. Sehingga terbentuklah diskusi yang menghasilkan. Tentu saja kegiatan itu tidak bisa terlaksana jika tidak diawali dengan aktivitas membaca terlebih dahulu sehingga mahasiswa punya modal untuk mengeluarkan pembicaraan yang berbobot.

Jika kita tengok para guru bangsa kita, bisa menjadi contoh. Mereka para militan aktivis organisasi sekaligus juga punya capaian tinggal dalam akademik. Contohnya saja bung Karno dan Hatta, selain aktif organisasi, mereka juga adalah pembaca yang lahap dan penulis yang cakap. Itu karena mereka menjadikan organisasi tidak hanya wadah pergerakan, namun juga tempat mengasah pikiran dengan berdiskusi, berdebat, berdialog dengan rekan sesama organisasi  sehingga timbul pemikiran sebagai penunjuk arah dalam bergerak.

Akhirnya, mungkinkah terjadi sinergi antara jiwa akademis dan aktivis dalam organisasi? Kita bisa menjawabnya dengan nada optimis. Dengan memulai menjadikan organisasi sebagai tempat aktualisasi segala hal yang didapat dari kerja akademik, dan juga organisasi sebagai tempat dengan berbagai program yang juga menunjang dan meningkatkan kerja-kerja akademik.      

Penulis: Arifin

mungkin yang anda cari

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *